Selasa, Agustus 09, 2011

SEJARAH BAGIAN VII

SEJARAH PENERIMAAN WAHYU WEWARAH SAPTA DARMA 
DAN PERJALANAN PANUNTUN AGUNG SRI GUTAMA
(BAGIAN VII – BAB II)


DIKELUARKAN OLEH

SEKRETARIAT TUNTUNAN AGUNG
KEROKHANIAN SAPTA DARMA

UNIT PENERBITAN
Sanggar Candi Sapta Rengga - Surokarsan MG.II/472 Yogyakarta 55151
Telepon/Fax : (0274) 375337  -  Email : saptadarma@yahoo.com


Adapun pengalaman pahit lainnya disampaikan berikut ini. Pada tanggal 17 Agustus 1956 bertempat di rumah kediamannya, Bapa Panuntun Agung Sri Gutama mengadakan sarasehan yang pertama dengan para Warga Sapta Darma, untuk membicarakan beberapa hal yang pernah dialami akhir-akhir ini, yaitu sebagai berikut :
1)  Pada suatu saat Bapa Panuntun Agung Sri Gutama pernah didatangi oleh dua orang tak dikenal, yang kemudian dibawa ke Blitar. Di sana beliau diperintahkan harus menyebarluaskan Agama Sapta Darma. Karena adanya ancaman berat perintah inipun disanggupi, tetapi belum dilaksanakan.
2)  Datang lagi seseorang yang juga belum dikenal ke rumah Bapa Panuntun Agung Sri Gutama dengan pertanyaan yang sama, sedangkan jawabannya tetap belum sanggup, sehingga tamu tersebut dengan menunjukkan kemarahan sambil menangkap burung perkutut kesayangan Bapa Panuntun Agung  yang ada dalam sangkar, kemudian kepalanya diputar dan ditarik sampai lepas, lalu bangkainya diletakkan di hadapan beliau, kemudian orang tersebut  meninggalkannya.
3)  Berselang beberapa waktu berikutnya datang lagi seorang sayang (tukang solder / patri yang keliling kampung) masuk rumah dengan membawa gunting seng dengan pertanyaan yang sama, namun Bapa Panuntun Agung tidak segera menjawab. Akhirnya gunting seng tersebut dipukulkan ke arah mulut Bapa Panuntun Agung sampai berkali-kali dan gigi beliau banyak yang tanggal. Namun Bapa Panuntun Agung tetap tidak menjawab perintah tersebut. Kemudian tukang sayang itu meninggalkannya sambil berpesan akan datang lagi untuk meminta jawaban kesanggupan melaksanakan tugas penyebaran ajaran kepada masyarakat luas. Setelah tukang sayang tidak tampak dari pandangan, Bapa Panuntun Agung meraba mulutnya, ternyata giginya banyak yang tanggal. Sedang genggaman kedua tangannya juga berlumuran darah. Peristiwa ini disaksikan oleh Bapak Sukardi (Lumajang) dan Bapak Kasdi (Pare, Kediri). Mereka melihat bahwa Bapa Panuntun Agung Sri Gutama memukuli dirinya sendiri. Setelah beliau sadar bahwa yang memukul dirinya itu adalah tangannya sendiri, akhirnya beliau merasa bimbang. Tidak akan melaksanakan perintah itu.  
4)  Beberapa hari berikutnya datang lagi tamu yang berpenampilan lebih meyakinkan dengan perawakan tinggi besar serta bertanya dengan tegas “SANGGUP ATAU TIDAK MENYEBARKAN AJARAN AGAMA SAPTA DARMA”. Namun Bapa Panuntun Agung tetap tidak sanggup dan akan dibunuh saat itu pula. Mendengar ancaman itu Bapa Panuntun Agung seraya memandang gerakan tamunya kemudian mengetahui bahwa pusaka yang ditodongkan kepada beliau, adalah salah satu pusaka yang pernah diterima pada saat Bapa Panuntun Agung racut yang pertama kalinya, adapun pusaka tersebut bernama Nagasasra, sehingga dengan melihat pusaka itu, Bapa Panuntun Agung akhirnya “SANGGUP”, maka kedua  orang tersebut terus menciumi Bapa Panuntun Agung. Tetapi Bapa Panuntun Agung masih meminta bebana (syarat) agar didalam melaksanakan tugas mengembangkan ajaran nanti:
a. Tidak akan terjadi tetesan darah.
b. Rawe-rawe rantas malang-malang putung bagi mereka yang menghalangi perkembangan Ajaran Agama Sapta Darma.
c. Sabda Usada Waras.
Ketiga syarat ini akhirnya disanggupi oleh kedua orang tamu itu. Adapun 4 kali tamu-tamu yang berbeda tersebut memiliki ciri-ciri yang sama, pada setiap bicara selalu memancarkan cahaya terutama melalui getaran suara dari mulutnya.  
Kemudian Bapa Panuntun Agung Sri Gutama bertanya, bagaimana tentang pelaksanaannya, adapun jawabannya sebagai berikut :
a Setiap masuk daerah didahului mengadakan peruwatan roh-roh penasaran yang berada di tempat-tempat tertentu yang sering dipuja dan dikeramatkan oleh sementara orang-orang yang sedang diliputi kegelapan. Sedangkan tugas peruwatan ditetapkan pada 500 tempat keramat yang berada di wilayah Tanah Air Indonesia.
b. Memberikan pertolongan / penyembuhan di jalan Tuhan bagi orang (penderita sakit) yang membutuhkan, dengan Sabda Waras.
c. Menuntuni sujud bagi yang berminat menghayati ajaran ini.
d. Adapun setiap petugas diberi tambahan mukjizat serta kewaspadaan.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka Bapa Panuntun Agung Sri Gutama berkenan menawarkan kepada para Warga Sapta Darma, siapa-siapa yang bersedia dan sanggup ikut serta menyebarluaskan Ajaran Agama Sapta Darma kepada umat manusia yang memerlukan. Pada dasarnya semua warga bersedia dan sanggup mengemban tugas berat akan tetapi luhur itu. Selanjutnya Bapa Panuntun Agung Sri Gutama memerintahkan segenap warga yang siap mengemban tugas suci, supaya tanggal 18 Agustus 1956 berkumpul di sanggar tempat penerimaan wahyu.
Dalam menjalankan tugasnya para warga tersebut oleh Bapa Panuntun Agung Sri Gutama dibekali Sabda Pandita Wali dan Sabda Pandita Ratu, untuk menyembuhkan orang yang sakit, dan kalau perlu binatang yang sakitpun supaya diusadani / disembuhkan dengan Sabda Waras dan tidak dibenarkan menerima imbalan.
Perlu ditambahkan bahwa tugas Bapa Panuntun Agung Sri Gutama tidak hanya menyebarluaskan Ajaran Agama Sapta Darma, akan tetapi lebih dari itu. Secara umum memang dapat diketahui bahwa tugas yang diterima oleh Bapa Panuntun Agung Sri Gutama terbatas pada bidang Ajaran Agama  Sapta Darma saja. Akan tetapi masih ada tugas lain yang tidak kalah pentingnya dengan tugas penyebaran Ajaran Agama Sapta Darma, sebagaimana yang pernah dijelaskan kepada para Tuntunan Sapta Darma bahwa Bapa Panuntun Agung Sri Gutama  menerima tugas cukup berat, tetapi mulia. Tugas  sebenarnya  / selengkapnya yang diterima Panuntun Agung seperti tersebut di bawah ini :
1) Menerima Ajaran Agama Sapta Darma dari Allah Hyang Maha Kuasa.
2) Mengembangkan / menyebarkan Ajaran Agama Sapta Darma.
3) Membuat jangka alam.
4) Meruwat roh-roh penasaran, dimintakan ampun kepada Hyang Maha Kuasa agar diterima di alam langgeng di sisi Hyang Maha Kuasa. Jin, setan diminta tidak mengganggu umat manusia yang berbudi luhur.
5) Menciptakan sarjana-sarjana tanpa gelar.
Inilah tugas Bapa Panuntun Agung Sri Gutama yang sebenarnya, tugas yang sangat berat tetapi luhur dan mulia. Tugas untuk mengembalikan kepribadian manusia mempertahankan harga diri dan martabat manusia, dan mengemban tugas kemanusiaan untuk menciptakan perdamaian dunia. Dalam mengemban tugas yang amat berat ini Bapa Panuntun Agung Sri Gutama telah dibekali oleh Allah Hyang Maha Kuasa dengan mukjizat dan kewaspadaan yang luar biasa, kemudian diajarkan kepada segenap Warga Sapta Darma yang menghendaki dan mampu menerimanya. Hal ini dapat dibuktikan hingga sekarang.

0 komentar:

Posting Komentar