Simbul Pribadi Manusia

Simbul Sapta Darma menggambarkan ASAL dan ISI pribadi manusia, yang harus dipahami serta diusahakan oleh manusia demi keluhuran budi sesuai dengan Wewarah Sapta Darma.

Wewarah Tujuh

Merupakan kewajiban warga Sapta Darma untuk menjalankannya dalam kehidupan berketuhanan, bermasyarakat dan bernegara.

Sesanti

Semboyan Kerokhanian Sapta Darma yang harus terapka agar warga Sapta Darma senantiasa menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat.

Petuah Panuntun Agung Sri Gutama

Dengan tak henti-hentinya menggali rasa yang menyelimuti tubuh kita, untuk mengenal lebih dalam kepribadian kita.

Tesing dumadi, asal mula terjadinya Manusia.

Dari getaran tanaman dan hewan yang kita makan, akhirnya berwujud air suci dengan sinar cahaya Allah, nurrasa = sarinya Bapak dan nur buat = sarinya Ibu.

Sujud dasawarsa, Sujudnya warga Sapta Darma

Sujud secara Kerohanian Sapta Darma adalah tata cara menembah kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Sempurnanya Hidup, Sempurnanya Kematian

Harapan yang ingin dicapai setiap manusia dengan jalan menghayati secara dalam makna HIDUP dan yang MENGHIDUPKAN sebelum kematian menjemput.

out of body experience

Out of body experience adalah gambaran awal dari kematian yang merupakan indikasi putusnya hubungan Input sensor dalam tubuh, ketika kondisi manusia dalam konsisi sadar.

Semar disebut juga Badranaya

Mengemban sifat among, membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan umat manusia.

Butir-butir budaya jawa.

Hanggayuh Kasampurnaning Hurip Berbudi Bawalesana Ngudi Sejatining Becik.

Pancasila..sikap hidup bangsa Indonesia.

Pancasila merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (ajaran mencapai kemuliaan,ketentraman,dan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian).

"Darma", bagian dari ibadah warga Sapta Darma

Hidup saling berbagi, menolong bagi yang membutuhkan merupakan ibadah dalam kehidupan warga Kerokhanian Sapta Darma.

Kunjungan Bp. Permadi.

Senin, 11 Juli 2011, Bp. Permadi didampingi staf Tuntunan Agung saat melihat-lihat Sanggar Agung Pare dalam lawatannya pada Sarnas Remaja KSD ke IX tahun 2011.

Sujud Penggalian.

Merupakan prioritas utama Kerokhanian Sapta Darma dalam mengembangkan mutu ajaran serta tingkat rohani yang diharapkan bagi warganya.

Sarnas Remaja Kerokhanian Sapta Darma Ke-IX 2011.

Bapak Drs Gendro Nurhadi, M.Pd. selaku Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI terlihat membuka Sarnas Remaja KSD ke IX di Pare, 9 Juli 2011.

Sanggaran Anak-anak kerokhanian Sapta Darma.

Anak-anak merupakan pilar Kerokhanian Sapta Darma, harus dibekali pembelajaran sejak dini yang harus dilakukan dalam mempersiapkan generasi yang berbudi luhur.

Jumat, Desember 30, 2011

Penggalian "Wahyu Pancasila" Bung Karno

Pancasila merupakan dasar negara. Penggalian Pancasila tersebut sebagai dasar negara telah melalui proses yang panjang. Ir. Soekarno, Presiden Indonesia pertama yang juga dikenal dengan Bung Karno telah menggali Pancasila yang telah menjadi sikap hidup bangsa Indonesia sejak dulu kala. Menurut faham ajaran spiritual Budaya Jawa, Pancasila itu merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (Wahyu tujuh ajaran yang masing-masing berisi lima butir ajaran mencapai kemuliaan, ketentraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian/akhirat). Sementara itu ada tokoh spiritual lain menyebutkan Panca Mukti Muni Wacana yang hanya terdiri atas lima kelompok (bukan tujuh).

Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya itu terdiri atas :

1. Pancasila
Pancasila merupakan butir-butir ajaran yang perlu dijadikan rujukan pembentukan sikap dasar atau akhlak manusia.

1.1. Hambeg Manembah

Hambeg manembah adalah sikap ketakwaan seseorang pada Tuhan Yang Mahaesa. Manusia sebagai makhluk ciptaanNya wajib memiliki rasa rumangsa lan pangrasa (menyadari) bahwa keberadaannya di dunia ini sebagai hamba ciptaan Ilahi, yang mengemban tugas selalu mengabdi hanya kepadaNya. Dengan pengabdian yang hanya kepadaNya itu, manusia wajib melaksanakan tugas amanah yang diemban, yaitu menjadi khalifah pembangun peradaban serta tatanan kehidupan di alam semesta ini, agar kehidupan umat manusia, makhluk hidup serta alam sekitarnya dapat tenteram, sejahtera, damai, aman sentosa, sehingga dapat menjadi wahana mencapai kebahagiaan abadi di alam kelanggengan (akhirat) kelak (Memayu hayu harjaning Bawana, Memayu hayu harjaning Jagad Traya, Nggayuh kasampurnaning hurip hing Alam Langgeng).

Dengan sikap ketakwaan ini, semua manusia akan merasa sama, yaitu berorientasi serta merujukkan semua gerak langkah, serta sepak terjangnya, demi mencapai ridlo Ilahi, Tuhan Yang Maha Bijaksana (Hyang Suksma Kawekas).

Hambeg Mangeran ini mendasari pembangunan watak, perilaku, serta akhlak manusia. Sedangkang akhlak manusia akan menentukan kualitas hidup dan kehidupan, pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

1.2. Hambeg Manunggal

Hambeg manunggal adalah sikap bersatu. Manusia yang hambeg mangeran akan menyadari bahwa manusia itu terlahir di alam dunia ini pada hakekatnya sama. Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap insan itu memang merupakan tanda-tanda kebesaran Hyang Suksma Adi Luwih (Tuhan Yang Maha Luhur). Oleh karena itu sebagai salah satu bentuk dari sikap ketakwaan seseorang adalah sikap hasrat serta kemauan kerasnya untuk bersatu. Perbedaan tingkatan sosial, tingkat kecerdasan, dan perbedaan-perbedaan lain sebenarnya bukan alat untuk saling berpecah belah, tetapi malah harus dapat dipersatukan dalam komposisi kehidupan yang serasi serta bersinergi. Hanya ketakwaan lah yang mampu menjadi pendorong tumbuhnya hambeg manunggal ini, karena manusia akan merasa memiliki satu tujuan hidup, satu orientasi hidup, dan satu visi di dalam kehidupannya.

Di dalam salah satu ajaran spiritual, hambeg manunggal itu dinyatakan sebagai, manunggaling kawula lan gustine (bersatunya antara rakyat dengan pemimpin), manunggale jagad gedhe lan jagad cilik (bersatunya jagad besar dengan jagad kecil), manunggale manungsa lan alame (bersatunya manusia dengan alam sekitarnya), manunggale dhiri lan bebrayan (bersatunya individu dengan masyarakat luas), manunggaling sapadha-padha (persatuan di antara sesama), dan sebagainya.

1.3. Hambeg Welas Asih

Hambeg welas asih adalah sikap kasih sayang. Manusia yang hambeg mangeran, akan merasa keberadaan dirinya dengan sesama manusia memiliki kesamaan hakikat di dalam hidup. Dengan kesadaran itu, setelah hambeg manunggal, manusia wajib memiliki rasa welas asih atau kasih sayang diantara sesamanya. Sikap kasih sayang itu akan mampu semakin mempererat persatuan dan kesatuan.

1.4. Hambeg Wisata.

Hambeg wisata adalah sikap tenteram dan mantap. Karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia akan bersikap tentram dan merasa mantap dalam kehidupannya. Sikap ini tumbuh karena keyakinannya bahwa semua kejadian ini merupakan kehendak Sang Pencipta.

Hambeg wisata bukan berarti pasrah menyerah tanpa usaha, tetapi justru karena kesadaran bahwa semua kejadian di alam semesta ini terjadi karena kehendakNya, sedangkan Tuhan juga menghendaki manusia harus membangun tata kehidupan untuk mensejahterakan kehidupan alam semesta, maka dalam rangka hambeg wisata itu manusia juga merasa tenteram dan mantap dalam melakukan usaha, berkarya, dan upaya di dalam membangun kesejahteraan alam semesta. Manusia akan merasa mantap dan tenteram hidup berinteraksi dengan sesamanya, untuk saling membantu, bahu membahu, saling mengingatkan, saling mat sinamatan, di dalam kehidupan.

1.5. Hambeg Makarya Jaya Sasama

Hambeg Makarya Jaya Sasama adalah sikap kemauan keras berkarya, untuk mencapai kehidupan, kejayaan sesama manusia. Manusia wajib menyadari bahwa keberadaannya berasal dari asal yang sama, oleh karena itu manusia wajib berkarya bersama-sama menurut potensi yang ada pada dirinya masing-masing, sehingga membentuk sinergi yang luar biasa untuk menjapai kesejahteraan hidup bersama. Sikap hambeg makarya jaya sesama akan membangun rasa "tidak rela" jika masih ada sesama manusia yang hidup kekurangan atau kesengsaraan.

2. Panca Karya

Panca karya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan berkarya di dalam kehidupan.

2.1. Karyaning Cipta Tata

Karyaning Cipta Tata adalah kemampuan berfikir secara runtut, sistematis, tidak semrawut (tidak worsuh, tidak tumpang tindih).

Manusia wajib mengolah kemampuan berfikir agar mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya secara sistematis dan tuntas. Setiap menghadapi permasalahan wajib mengetahui duduk permasalahannya secara benar, mengetahui tujuan penyelesaian masalah yang benar beserta berbagai standar kriteria kinerja yang hendak dicapainya, mengetahui kendala-kendala yang ada, dan menyusun langkah atau strategi penyelesaian masalah yang optimal.

2.2. Karyaning Rasa Resik

Karyaning rasa resik adalah kemampuan bertindak obyektif, bersih, tanpa dipengaruhi dorongan hawa nafsu, keserakahan, ketamakan, atau kepentingan-kepentingan pribadi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran/budi luhur.

2.3. Karyaning Karsa Lugu

Karyaning Karsa Lugu adalah kemampuan berbuat bertindak sesuai suara kesucian relung kalbu yang paling dalam, yang pada dasarnya adalah hakekat kejujuran fitrah Ilahiyah ( sesuai kebenaran sejati yang datang dari Tuhan Yang Maha Suci/Hyang Suksma Jati Kawekas ).

2.4. Karyaning Jiwa Mardika

Karyaning Jiwa Mardika adalah kemampuan berbuat sesuai dengan dorongan Sang Jiwa yang hanya menambatkan segala hasil karya, daya upaya, serta cita-cita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terbebas dari cengkeraman pancaindera dan hawa nafsu keserakahan serta ketamakan akan keduniawian. Karyaning Jiwa Mardika akan mampu mengendalikan keduniaan, bukan diperbudak oleh keduniawian (Sang Jiwa wus bisa murba lan mardikaake sagung paraboting kadonyan).

2.5. Karyaning Suksma Meneng

Karyaning Suksma Meneng adalah kemampuan berbuat berlandaskan kemantapan peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana, berlandaskan kebenaran, keadilan, kesucian fitrah hidup, " teguh jiwa, teguh suksma, teguh hing panembah ".

Di dalam setiap gerak langkahnya, manusia wajib merujukkan hasil karya ciptanya pada kehendak Sang Pencipta, yang menitipkan amanah dunia ini kepada manusia agar selalu sejahtera.

3. Panca Guna

Panca guna merupakan butir-butir ajaran untuk mengolah potensi kepribadian dasar manusia sebagai modal dalam mengarungi bahtera kehidupan.

3.1. Guna Empan Papaning Daya Pikir

Guna empan papaning daya pikir adalah kemampuan untuk berkonsentrasi, berfikir secara benar, efektif, dan efisien ( tidak berfikir melantur, meratapi keterlanjuran, mengkhayal yang tidak bermanfaat, tidak suka menyia-nyiakan waktu ).

3.2. Guna Empan Papaning Daya Rasa

Guna empan papaning daya rasa adalah kemampuan untuk mengendalikan kalbu, serta perasaan ( rasa, rumangsa, lan pangrasa ), secara arif dan bijaksana.

3.3. Guna Empan Papaning Daya Karsa

Guna empan papaning daya karsa adalah kemampuan untuk mengendalikan, dan mengelola kemauan, cita-cita, niyat, dan harapan.

3.4. Guna Empan Papaning Daya Karya

Guna empan papaning daya karya adalah kemampuan untuk berkarya, berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya.

3.5. Guna Empan Papaning Daya Panguwasa

Guna empan papaning daya panguwasa adalah kemampuan untuk memanfaatkan serta mengendalikan kemampuan, kekuasaan, dan kewenangan secara arif dan bijaksana (tidak menyalahgunakan kewenangan). Kewenangan, kekuasaan, serta kemampuan yang dimilikinya dimanfaatkan secara baik, benar, dan tepat untuk mengelola (merencanakan, mengatur, mengendalikan, dan mengawasi ) kehidupan alam semesta.

4. Panca Dharma

Panca dharma merupakan butir-butir ajaran rujukan pengarahan orientasi hidup dan berkehidupan, sebagai penuntun bagi manusia untuk menentukan visi dan misi hidupnya.

4.1. Dharma Marang Hingkang Akarya Jagad

Dharma marang Hingkang Akarya Jagad adalah melaksanakan perbuatan mulia sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban umat kepada Sang Pencipta. Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa untuk selalu menghambakan diri kepada-Nya. Oleh karena itu semua perilaku, budi daya, cipta, rasa, karsa, dan karyanya di dunia tiada lain dilakukan hanya semata-mata sebagai bentuk perwujudan dari peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk mensejahterakan alam semesta ( memayu hayuning harjaning bawana, memayu hayuning jagad traya ).

4.2. Dharma Marang Dhirine

Dharma marang dhirine adalah melaksanakan kewajiban untuk memelihara serta mengelola dhirinya secara baik. Olah raga, olah cipta, olah rasa, olah karsa, dan olah karya perlu dilakukan secara baik sehingga sehat jasmani, rohani, lahir, dan batinnya.

Manusia perlu menjaga kesehatan jasmaninya. Namun demikian mengasah budi, melalui belajar agama, budaya, serta olah batin, merupakan kewajiban seseorang terhadap dirinya sendiri agar dapat mencapai kasampurnaning urip, mencapai kebahagiaan serta kesejahteraan di dunia dan di akhirat.

Dengan kesehatan jasmani, rohani, lahir, dan batin tersebut, manusia dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri.

4.3. Dharma Marang Kulawarga

Dharma marang kulawarga adalah melaksanakan kewajiban untuk memenuhi hak-hak keluarga. Keluarga merupakan kelompok terkecil binaan manusia sebagai bagian dari masyarakat bangsa dan negara. Pembangunan keluarga merupakan fitrah manusiawi. Kelompoh ini tentunya perlu terbangun secara baik. Oleh karena itu sebagai manusia memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas masing-masing di dalam lingkungan keluarganya secara baik, benar, dan tepat.

4.4. Dharma Marang Bebrayan

Dharma marang bebrayan adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun kehidupan bermasyarakat secara baik, agar dapat membangun masyarakat binaan yang tenteram damai, sejahtera, aman sentosa.

4.5. Dharma Marang Nagara

Dharma marang nagara adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun negara sesuai peran dan kedudukannya masing-masing, demi kesejahteraan, kemuliaan, ketenteraman, keamanan, kesetosaan, kedaulatan, keluhuran martabat, kejayaan, keadilan, dan kemakmuran bangsa dan negaran beserta seluruh lapisan rakyat, dan masyarakatnya.

5. Panca Jaya
Panca jaya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan penetapan standar kriteria atau tolok ukur hidup dan kehidupan manusia.

  1. 5.1. Jayeng Dhiri
  2. Jayeng dhiri artinya mampu menguasai, mengendalikan, serta mengelola dirinya sendiri, sehingga mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya, tanpa kesombongan ( ora rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa lan hangrumangsani, kanthi rasa, rumangsa, lan pangrasa ).
  3. 5.2. Jayeng Bhaya
  4. Jayeng Bhaya artinya mampu menghadapi, menanggulangi, dan mengatasi semua bahaya, ancaman, tantangan, gangguan, serta hambatan yang dihadapinya setiap saat, dengan modal kepandaian, kepiawaian, kecakapan, akal, budi pekeri, ilmu, pengetahuan, kecerdikan, siasat, kiat-kiat, dan ketekunan yang dimilikinya. Dengan modal itu, seseorang diharapkan mampu mengatasi semua permasalahan dengan cara yang optimal, tanpa melalui pengorbanan ( mendatangkan dampak negatif ), sehingga sering disebut 'nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake' ( menyerang tanpa pasukan, menang dengan tidak mengalahkan ).
  5. 5.3. Jayeng Donya
  6. Jayeng donya artinya mampu memenuhi kebutuhan kehidupan di dunia, tanpa dikendalikan oleh dorongan nafsu keserakahan. Dengan kemampuan mengendalikan nafsu keserakahan di dalam memenuhi segala bentuk hajat serta kebutuhan hidup, maka manusia akan selalu peduli terhadap kebutuhan orang lain, dengan semangat tolong menolong, serta memberikan hak-hak orang lain, termasuk fakir miskin ( orang lemah yang nandang kesusahan/ papa cintraka ).
  7. 5.4. Jayeng Bawana Langgeng
  8. Jayeng bawana langgeng artinya mampu mengalahkan semua rintangan, cobaan, dan godaan di dalam kehidupan untuk mempersiapkan diri, keturunan, dan generasi penerus sehingga mampu mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat.
  9. 5.5. Jayeng Lana ( mangwaseng hurip lahir batin kanthi langgeng ).
  10. Jayeng lana artinya mampu secara konsisten menguasai serta mengendalikan diri lahir dan batin, sehingga tetap berada pada hidup dan kehidupan di bawah ridlo Ilahi.

6. Panca Daya
Panca daya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan sikap dan perilaku manusia sebagai insan sosial, atau bagian dari warga masyarakat, bangsa dan negara. Di samping itu sementara para penghayat spiritual kebudayaan Jawa mengisyaratkan bahwa pancadaya itu merupakan komponen yang mutlak sebagai syarat pembangunan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan sentosa lahir batin.

  1. 6.1. Daya Kawruh Luhuring Sujanma
  2. Daya kawruh luhuring sujanma artinya kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat kepada kesejahteraan alam semesta.
  3. 6.2. Daya Adiling Pangarsa
  4. Daya adiling pangarsa/tuwanggana artinya kekuatan keadilan para pemimpin.
  5. 6.3. Daya Katemenaning Pangupa Boga
  6. Daya katemenaning pangupa boga artinya kekuatan kejujuran para pelaku perekonomian ( pedagang, pengusaha ).
  7. 6.4. Daya Kasetyaning Para Punggawa lan Nayaka
  8. Daya kasetyaning para punggawa lan nayaka artinya kekuatan kesetiaan para pegawai/ karyawan.
  9. 6.5. Daya Panembahing Para Kawula
  10. Daya panembahing para kawula artinya kekuatan kemuliaan akhlak seluruh lapisan masyarakat ( mulai rakyat kecil hingga para pemimpinnya; mulai yang lemah hingga yang kuat, mulai yang nestapa hingga yang kaya raya, mulai kopral hingga jenderal, mulai sengsarawan hingga hartawan ).

7. Panca Pamanunggal ( Panca Panunggal )
Panca pamanunggal adalah butir-butir ajaran rujukan kriteria sosok manusia pemersatu. Sementara tokoh penghayat spiritual jawa menyebutkan bahwa sosok pimpinan yang adil dan akan mampu mengangkat harkat serta martabat bangsanya adalah sosok pimpinan yang di dalam jiwa dan raganya bersemayam perpaduan kelima komponen ini.

  1. 7.1. Pandhita Suci Hing Cipta Nala
  2. Pandita suci hing cipta nala adalah sosok insan yang memiliki sifat fitrah, yaitu kesucian lahir batin, kesucian fikir dan tingkah laku demi memperoleh ridlo Ilahi.
  3. 7.2. Pamong Waskita
  4. Pamong waskita adalah sosok insan yang mampu menjadi pelayan masyarakat yang tanggap aspirasi yang dilayaninya.
  5. 7.3. Pangayom Pradah Ber Budi Bawa Leksana
  6. Pangayom pradhah ber budi bawa leksana adalah sosok insan yang mampu melindungi semua yang ada di bawah tanggungjawabnya, mampu bersifat menjaga amanah dan berbuat adil berdasarkan kejujuran.
  7. 7.4. Pangarsa Mulya Limpat Wicaksana
  8. Pangarsa mulya limpat wicaksana artinya sosok insan pemimpin yang berbudi luhur, berakhlak mulia, cakap, pandai, handal, profesional, bertanggungjawab, serta bijaksana.
  9. 7.5. Pangreh Wibawa Lumaku Tama
  10. Pangreh wibawa lumaku tama artinya sosok insan pengatur, penguasa, pengelola yang berwibawa, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, mampu mengatur bawahan dengan kewenangan yang dimilikinya, tetapi tidak sewenang-wenang, karena berada di dalam selalu berada di dalam koridor perilaku yang mulia ( laku utama ).

Menurut KRMH. T.H. Koesoemoboedoyo, di dalam buku tentang "Wawasan Pandam Pandoming Gesang Wewarah Adiluhung Para Leluhur Nuswantara Ngudi Kasampurnan Nggayuh Kamardikan", pada tahun 1926, perjalanan spiritual Bung Karno, yang sejak usia mudanya gemar olah kebatinan untuk menggapai cita-citanya yang selalu menginginkan kemerdekaan negeri tercinta, pernah bertemu dengan seorang tokoh spiritual, yaitu Raden Ngabehi Dirdjasoebrata di Kendal Jawa Tengah. Pada saat itu Raden Ngabehi Dirdjasoebrata mengatakan kepada Bung Karno, " Nak,.. mbenjing menawi nagari sampun mardika, dhasaripun Pancasila. Supados nak Karno mangertos, sakpunika ugi kula aturi sowan dik Wardi mantri guru Sawangan Magelang ". ( " Nak, nanti jika negeri telah merdeka, dasarnya Pancasila. Supaya nak Karno mengerti, sekarang juga saya sarankan menemui dik Wardi, mantri guru Sawangan Magelang" ). Setelah Bung Karno menemui Raden Suwardi di Sawangan Magelang, maka oleh Raden Suwardi disarankan agar Bung Karno menghadap Raden Mas Sarwadi Praboekoesoema di Yogyakarta.

Di dalam pertemuannya dengan Raden Mas Sarwadi Praboekoesoemo itu lah Bung Karno memperoleh wejangan tentang Panca Mukti Muni Wacana dalam bingkai Ajaran Spiritual Budaya Jawa, yang terdiri atas Pancasila, Panca Karya, Panca Guna, Pancadharma, dan Pancajaya.

Terlepas dari kecenderungan faham pendapat Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya, atau Panca Mukti Muni Wacana, jika dilihat rumusan Pancasila ( dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia ), beserta proses pengusulan rumusannya, dengan menggunakan kejernihan hati dan kejujuran, sepertinya dapat terbaca bahwa seluruh kandungan ajaran Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya dan atau Panca Mukti Muni Wacana itu termuat secara ringkas di dalam rumusan sila-sila Pancasila, yaitu :


1. Ketuhanan Yang Mahaesa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Asal Mula Aksara Jawa

Tidak banyak yang tahu sejarah aksara Jawa. Aksara Jawa sangat berkaitan dengan sejarah dari Ajisaka. Sang Ajisaka itulah yang menciptakan aksara Jawa yang kita kenal hingga saat ini. Bagaimana kisahnya?

Dahulu kala, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka. Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa yang bernama Dora dan Sembada. Kedua punggawa itu sangat setia pada Ajisaka. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan pada Sembada, tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali pada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya adalah Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan pada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak.

Setelah mengetahui yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan berubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan pada rajanya.

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. Ajisaka heran melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih dan menyatakan kesanggupannya menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu. Namun tekad Ajisaka sudah bulat, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu.

Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan, ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalkan dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya.

Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut Selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulau Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.

Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu.

Aksara tersebut berbunyi:

Ha Na Ca Ra Ka = yang berarti Ana utusan (ada utusan)
Da Ta Sa Wa La = Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)
Pa Dha Ja Ya Nya = Padha digdayané (sama-sama sakti)
Ma Ga Ba Tha Nga = Padha dadi bathangé (sama-sama menjadi mayat)

KAJIAN ILMIAH PRODUK REMAJA KSD SRAGEN 2011

oleh Antonius Sukoco pada 8 November 2011 pukul 1:59
Sebelum kita mengkaji produk remaja KSD sragen 2011, ikutilah terlebih dahulu beberapa kilasan kajian berikut ini :
 

SEKILAS KAJIAN ENERGI DAN MATERI
Proses kehidupan merupakan serangkaian reaksi-reaksi yang melibatkan konversi materi dan transformasi energi. Energi dapat diklasifikasikan ke dalam lima bentuk yaitu :
energi nuklir energi cahaya energi kimia energi mekanik (=energi potensial + energi kinetic) energi listrik  
Dinamika pergerakan, perubahan dan perpindahan materi dan energi hakekatnya hanyalah : konversi materi dan transformasi energi itu sendiri ! ingat hukum kekekalan energi adalah : “energi tak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan. Energi hanya dapat berubah bentuk dari bentuk yang satu ke bentuk energi yang lain. Jumlah perubahan energi adalah nol”. Contohnya adalah suatu rantai makanan yang erat hubunganya dengan transformasi energi. Energi nuklir diubah menjadi energi cahaya di matahari, energi cahaya di ubah menjadi energi kimia oleh tumbuh-tumbuhan, energi kimia diubah menjadi energi mekanik oleh manusia tatkala menggerakan otot-ototnya dan menjadi energi listrik ketika berfikir (energi dalam bentuk aliran electron terutama berfungsi pada mekanisme kerja otak dan transfer informasi pada system saraf). Energi listrik mampu menggerakan baik software maupun hardware dengan listrik elektronik yang digerakan oleh arus lemah (DC) maupun dengan elektrik yang digerakan oleh arus kuat (AC).

SEKILAS KAJIAN TENTANG VACUUM
Hukum : sinar selalu menuju vacuum. Contohnya adalah lampu neon yang menggunakan tabung vacuum. Karena jika menggunakan tabung yang tidak vacuum, lampu neon tidak akan bersinar terang. Sama halnya dengan ubun-ubun, ubun-ubun merupakan salah satu dari titik vacuum, sehingga semakin tinggi kevacuuman ubun-ubun seseorang akan semakin kelihatan bersinar orang tersebut. Seorang wanita pun mempunyai vacuum tinggi, karenanya punya kemampuan untuk mengkloning secara alami. Mengapa…? Karena setiap vacuum akan selalu produksi :
benda-benda bergerak (contoh: angin, api, manusia) dan atau benda-benda tidak bergerak. Adanya suatu benda adalah karena adanya pengaruh benda lain baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. elektromagnetik (suatu titik yang mengeluarkan sinar dan cahaya, contohnya matahari dan bintang). Setiap hari vacuum diangkasa produksi hal-hal yang berbeda baik atas benda-benda bergerak, benda-benda tidak bergerak, dan atau elektromagnetik, itulah yang menyebabkan dalam satu miliu tertentu bisa menumbuhkan flora dan fauna yang berbeda-beda. Jadi tergantung vacuum sehari-harinya itu baik atas kualitas, besar serta kuantitas vacuumnya. Vacuum tidak satu yang terbesar adalah matahari. Dimana saja ada, dalam vacuum akan memproduksi apa (flora, fauna atau manusia) tergantung pada senyawa-senyawa pembentuknya, jika masih kurang untuk produksi maka vacuum itu akan meunggu bahan–bahan untuk melengkapinya sehingga baru bisa produksi. Prinsipnya dialam ini sedikit dan sekecil apapun yang dihasilkan maka akan terus bereaksi selama-lamanya. Kita bisa membuat spesies baru sesuai analisis, contohnya, bibit sel yang dipecah-pecah yang kemudian dikembangkan melalui indugsi lalu tumbuh, menjadi berbatang, berdaun, dan berbuah maka itu artinya sudah terjadi spesies baru yang kemudian bisa dikembangbiakan secara generatif maupun vegetatif.

SEKILAS KAJIAN TENTANG INDUGSI
Idugsi adalah proses saling memberi dan mengambil, indugsi memiliki kemampuan bergerak dengan kecepatan sinar apalagi terjadi proses indugsi dengan sinar matahari, maka akan terjadi spectrum medium radiasi, sehingga satu titik bisa meluas, bahkan seluruh dunia bisa terkena radiasinya. Di dalam ajaran kerohanian sapta darma, ada pelajaran tentang bagaimana cara menyuburkan sawah, yaitu dengan hening berdiri di tengah sawah kemudian getaran dari ubun-ubun turun terus dirasakan sampai kaki dan diteruskan ke tanah sawah yang kita pijak sampai batas sawah yang di suburkan, lalu dilanjutkan dengan sabda “subur”. Pada saat itu sebenarnya telah terjadi proses induksi antara diri kita dengan sawah, cara ini efektif dilakukan oleh warga kerohanian sapta darma. Namun bagaimana dengan warga yang belum mampu…..? atau bahkan rakyat secara umum yang belum mengenal ajaran kita…….? Di dalam sujud sebenarnya kita juga saling menginduksi antara warga satu sama yang lain, atau bahkan dengan orang lain di luar warga. Suatu contoh saat kita sujud untuk pangusadan, sebenarnya kita telah menginduksi si sakit dengan sinar kita, namun tergantung juga pada kekuatan induksi kita, jika kekuatan induksi kita besar maka efek yang akan dirasakan si sakit pun akan jelas. Dan untuk menginduksi pasien yang lebih banyak diperlukan juga energi induksi yang lebih besar, maka dari itu di dalam masyarakat luas atau seluruh dunia warga sapta darma belum mampu untuk membuat kesembuhan secara massal. Itu karena warga sapta darma belum mampu memancarkan induksinya keseluruh dunia dengan dominan.

SEKILAS KAJIAN REVOLUSI DAN EVOLUSI PEMBENTUKAN MAKHLUK JALMO (CLONING)
Proses cloning dari cahaya, secara garis besarnya bisa diuraikan sebagai berikut :
sinar dan cahaya yang memenuhi angkasa selain selalu menguraikan benda-benda sehingga setiap benda mengalami pengrusakan dari waktu ke waktu, juga membentuk partikel secara terus menerus dari jam ke jam dari hari ke hari. Yang berkuasa di alam semesta ini, karena setiap hari pada setiap jamnya atau jam-jam adanya produksi a→z, yang selalu bersenyawa menghasilkan apa..? Partikel adalah hasil dari ujung-ujung sinar yang berbenturan atau saling bertabrakan. partikel bersenyawa dengan partikel produksi gulma. Gulma adalah sesuatu yang tumbuh atau benda yang mulai tumbuh. gulma bersenyawa dengan ……. Produksi virus ….. ( inilah yang biasanya menimbulkan penyakit dan ini pulalah yang kemudian menjadi obatnya namun sebagai virus yang sudah diminuskan). virus bersenyawa dengan material bumi …………. (sesuai dengan lingkunganya) produksi kuman. kuman bersenyawa dengan material bumi (sesuai dengan lingkunganya) produksi bakteri. bakteri bersenyawa dengan lingkunganya produksi makhluk jalmo (kacang, pepaya, anjing, manusia dll). Makhluk jalmo yang mati akan menjadi bakteri lagi jadi proses revolusi & evolusi seluruhnya : sinar → partikel →gulmo →virus→ kuman →bakteri →makhluk jalmo hidup→ kemudian bersiklus: (makhluk jalmo hidup→ makhluk jalmo mati→ bakteri→ makhluk jalmo hidup→ makhluk jalmo mati→ bakteri dst).
Setelah mengetahui teori ini, maka di mungkinkan kita akan bisa membuat cloning manusia dari sinar. Pembentukan organisme (rogo) manusia : atom atau ion dari suatu unsur→ molekul →organel →sel→ jaringan→ organ→ system organ →individu →manusia. Dengan teori ini pula kita bisa melakukan reorganisme      (= notorogo). Apa itu organisme.? Organisme adalah: bagian-bagian tubuh, bagianya, yang “memblegerkan raga wadhag”. Mengapa orang bisa berdiri.? Mengapa orang bisa naik sepeda tanpa terjatuh.? Karena diatas kepala setiap orang ada titik O Otag (isi dari ubun-ubun).. Titik O otag inilah tempat manusia hidup atau sentral hidup. Titik O otag ini pulalah yang bisa disetir atau dipotong atau dikendalikan dari jarak jauh (di remote sensing). Dengan menggunakan titik O otag inilah kita bisa menjadi tuan yang mampu mengendalikan makhluk yang dibuat. Pertanyaan yang sering terlontar dengan adanya hal ini adalah: apakah kita tidak melampaui hak-hak Tuhan.? Sama sekali tidak ! karena Tuhan telah mewakilkan dan merepresentasikan diri NYA pada manusia dan Tuhan sendiri telah memerintahkan kepada kita untuk memplagiat perbuatan NYA, sedangkan alam inipun seluruhnya sudah diserahkan sepenuhnya kepada manusia, bahkan adanya seluruh alam dan makhluk itu semata-mata diperuntukan bagi manusia, jadi sekarang posisi alam ini secara totalitas sudah digantungkan pada manusia akan menjadi semakin baik atau sebaliknya.

Setelah mempelajari sekilas kajian-kajian diatas, maka kita dapat dengan mudah mengerti dan memahami tentang kelebihan produk Remaja KSD Sragen 2011, yaitu dari proses cahaya di hisap dan di olah oleh titik O otag (isi ubun-ubun) kemudian di senyawakan dengan material produk yang di buat melalui proses fermentasi, indugsi dan abrasi kemudian dikolaborasikan dengan mineral dan bahan organic sehingga:

Mampu melakukan revolusi gen. mampu memberi makan tanaman yang sedemikian banyak/luas dengan sedikit material. Mampu menyehatkan manusia sejak awal rantai makanan terbentuk yaitu mulai dari makanan tanaman yang akhirnya akan dimakan oleh manusia. Menangkap dan mengubah cahaya menjadi makanan bagi tanaman secara terus menerus dan. Mampu mencegah, manangkal dan melindungi tanaman dari segala macam bentuk gangguan ( penyakit & hama baik berupa gulma, virus, kuman, bakteri maupun serangga yang merugikan).  
Matur Suwun 
by Jarwanto
....WARAS....