Simbul Pribadi Manusia

Simbul Sapta Darma menggambarkan ASAL dan ISI pribadi manusia, yang harus dipahami serta diusahakan oleh manusia demi keluhuran budi sesuai dengan Wewarah Sapta Darma.

Wewarah Tujuh

Merupakan kewajiban warga Sapta Darma untuk menjalankannya dalam kehidupan berketuhanan, bermasyarakat dan bernegara.

Sesanti

Semboyan Kerokhanian Sapta Darma yang harus terapka agar warga Sapta Darma senantiasa menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat.

Petuah Panuntun Agung Sri Gutama

Dengan tak henti-hentinya menggali rasa yang menyelimuti tubuh kita, untuk mengenal lebih dalam kepribadian kita.

Tesing dumadi, asal mula terjadinya Manusia.

Dari getaran tanaman dan hewan yang kita makan, akhirnya berwujud air suci dengan sinar cahaya Allah, nurrasa = sarinya Bapak dan nur buat = sarinya Ibu.

Sujud dasawarsa, Sujudnya warga Sapta Darma

Sujud secara Kerohanian Sapta Darma adalah tata cara menembah kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Sempurnanya Hidup, Sempurnanya Kematian

Harapan yang ingin dicapai setiap manusia dengan jalan menghayati secara dalam makna HIDUP dan yang MENGHIDUPKAN sebelum kematian menjemput.

out of body experience

Out of body experience adalah gambaran awal dari kematian yang merupakan indikasi putusnya hubungan Input sensor dalam tubuh, ketika kondisi manusia dalam konsisi sadar.

Semar disebut juga Badranaya

Mengemban sifat among, membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan umat manusia.

Butir-butir budaya jawa.

Hanggayuh Kasampurnaning Hurip Berbudi Bawalesana Ngudi Sejatining Becik.

Pancasila..sikap hidup bangsa Indonesia.

Pancasila merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (ajaran mencapai kemuliaan,ketentraman,dan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian).

"Darma", bagian dari ibadah warga Sapta Darma

Hidup saling berbagi, menolong bagi yang membutuhkan merupakan ibadah dalam kehidupan warga Kerokhanian Sapta Darma.

Kunjungan Bp. Permadi.

Senin, 11 Juli 2011, Bp. Permadi didampingi staf Tuntunan Agung saat melihat-lihat Sanggar Agung Pare dalam lawatannya pada Sarnas Remaja KSD ke IX tahun 2011.

Sujud Penggalian.

Merupakan prioritas utama Kerokhanian Sapta Darma dalam mengembangkan mutu ajaran serta tingkat rohani yang diharapkan bagi warganya.

Sarnas Remaja Kerokhanian Sapta Darma Ke-IX 2011.

Bapak Drs Gendro Nurhadi, M.Pd. selaku Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI terlihat membuka Sarnas Remaja KSD ke IX di Pare, 9 Juli 2011.

Sanggaran Anak-anak kerokhanian Sapta Darma.

Anak-anak merupakan pilar Kerokhanian Sapta Darma, harus dibekali pembelajaran sejak dini yang harus dilakukan dalam mempersiapkan generasi yang berbudi luhur.

Rabu, Januari 04, 2012

KEYAKINAN YANG MUTLAK

Oleh: Naen Soeryono


Sering saya mendengar kabar, bahkan sering ada cerita tentang seseorang yang banyak digunjingkan oleh sesama Warga karena mempunyai “ kelebihan “ dan tidak jarang banyak Warga mengatakan orang yang mempunyai “ kelebihan “ itu adalah orang yang “ sakti “, dia pandai menyembuhkan sesama, bisa melihat segala hal yang orang lain tidak tahu, bahkan punya kelebihan yang tidak setiap orang mampu melakukan itu.

Bahkan tidak hanya Warga yang sering ikut penggalian, bahkan si Tuntunan pun yang notabene sebagai Pembina Warga ada yang tergila-gila kepada orang-orang yang dianggap punya tenaga linuwih, sehingga ikut- ikutan mempercayai setiap omongan yang disampaikan, termasuk segala hal yang tidak sesuai dengan arah ajaran Kerokhanian Sapta Darma termasuk Hukum Tuhan .

Setiap orang yang dilahirkan untuk hidup didunia ini pasti mempunyai permasalahan tentang kehidupan, sehingga banyak cerita dan dongeng dengan perumpamaan pada saat bayi dilahirkan di dunia ini pasti ditandai dengan “ tangisan sang jabang bayi pada saat dilahirkan “, dan permasalahan hidup antara yang satu dengn yang lain tentu saja berbeda-beda, ada yang berrmasalah dengan ekonminya, ada yang bermasalah dengan kesehatannya, ada yang bermasalah dengan anaknya, ada yang bermasalah dengan pekerjaannya, ada yang bermasalah dengan isteri atau suaminya, dan banyak masalah-masalah lain yang tidak tercover dalam tulisan diatas, karena memang yang namanya masalah itu beribu-ribu penyebabnya. 

Pernah ada keluarga yang menceritakan kepada saya tentang permasalahan hidup yang dihadapi, pada saat menghadapi sakit pada bagian perut selama 2 (dua) bulan, setiap berobat seminggu sekali untuk memeriksakan ke dokter dan untuk beli obat pasti mengeluarkan duit Rp. 2.500.000, - (dua juta lima ratus ribu) dan sudah tiga dokter yang memeriksa penyakitnya, ada Prof. dr. Pratik yang ahli Kandungan, ada Prof. dr. Heru juga specialis kandungan, dan ada Prof. dr. Erik juga specialis SPOG, rata–rata hasil pemeriksaan si Profesor selalu mengatakan “ ada mium dalam rahim, ada pelengketan rahim, dan ada farices dalam rahim dan ketiga dokter itu mengatakan tidak akan bisa punya anak lagi. dan kalaupun bisa resikonya sangat besar bagi si ibu. 

Pada saat penyakitnya sudah tidak ada tanda-tanda kesembuhan dan perkembangan yang baik, maka pasangan suami isteri tersebut memasrahkan sakitnya kepada Hyang Maha Kuasa dengan cara melakukan sujudan selama tujuh hari bersama sang suami, satu hari ditempuh dengan tiga kali sujud, dan sepenuhnya dilakukan dengan cara ikhlas, termasuk mohon petunjuk Hyang Maha Kuasa, tenryata pada hari yang terakhir sujudan, si perempuan yang sakit pada saat mengucap “Kesalahane Hyang Maha Suci mohon ampun Hyang Maha Kuasa, melihat kesalahan dalam dirinya dan melihat suatu pengalaman yang pahit pada saat menggugurkan kandungan si jabang bayi yang ada dalam rahimnya dan baru berumur satu bulan, si perempuan itu menangis dalam kain di tempat dia sujud, dan menangis tersedu-sedu, seolah-olah dia tidak bisa berdiri untuk mengangkat badannya, karena ingat akan pengalaman pahit pada saat mengugurkan kandungan dalam rahimnya.

Ada pengertian dalam dialog pada saat sujud, bahwa suatu kesalahan yang kita perbuat tentu tidak gratis begitu saja hilang, setiap kesalahan pasti ak an ada penebusan, pada saat mengucap “Hyang Maha Suci Mertobat Hyang Maha Kuasa“ di dalam diri perempuan itu mengatakan kepada Nya, “ … aku siap menggantikan anak yang pernah kugugurkan itu, beri aku pengganti anak itu …sekalipun nyawaku adalah tebusannya” dan pada saat terakhir sujud si bapak mendapat tuntunan, agar mengembalikan roh suci yang pernah ditiupkan oleh Hyang Maha Kuasa di rahim si ibu sambil memberi nama si jabang bayi tadi, maka diberilah nama si jabang bayi itu “ayu“ karena memang terlihat bayi perempuan, dan ayu dikembalikan kepada pemilik Nya ….

Suatu pengalaman yang luar biasa yang dirasakan perempuan itu…..setelah melaksanakan tirakatan, dalam kondisi sakit….,tapi hatinya diliputi oleh keihklasan yang luar biasa, sakit yang dideritanya diakatakan sebagai anugrah, merasakan sebagai umat yang sangat dikasihi oleh-Nya. Dalam setiap sujud dan tidurnya dia berkata dalam hati : “ akan kunikmati setiap rasa sakit yang Kau berikan ini dengan rasa ikhlas dan bahagia karena ini adalah bagian dari kasih sayang MU untuk menebus kesalahanku “

Setelah dua minggu selesai melaksanakan sujudan, si perempuan dan suaminya pergi ke dokter lagi untuk memeriksakan penyakit yang pernah diderita, ternyata dokter mengatakan bahwa benjolan yang dulu pernah dilihat pada saat diperiksa sudah hilang, berganti dengan si embrio kecil nafas jabang bayi dalam rahimnya, si dokter mengatakan…kalau ibu dapat hamil berarti sudah sembuh…, dan ternyata benar perut si perempuan itu kian hari kian besar sebagai tanda kehamilan.., dan setelah sembilan bulan sepuluh hari lahirlah bayi laki-laki yang lucu dan menangis dengan keras, lalu si bapak menggendong si bayi itu dengan mengucap Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil, trimakasih …………..,

Pengalaman di atas, adalah cerita kecil dari sisi kehidupan yang banyak dialami oleh Warga kita, tetapi pada saat kita mengadapi permasalahan dalam hidup, kita sering mencari jalan keluar yang instant alias cepat tanpa ada pengorbanan (… ya wajar-wajar saja namanya manusia itu kan selalu pengin cepat-cepat membuang masalahnya), tetapi ingat dalam Wewarah Tujuh mengatakan “ Wani urip kanthi kapitayan saka kekuatane dhewe “, artinya janganlah kita melimpahkan kesalahan yang pernah kita perbuat kepada orang lain …, kita harus berani mempertanggung jawabkan apa yang pernah kita perbuat kepada Hyang Maha Kuasa dengan cara memasrahkan hidup kita pada Nya, dengan cara sujud sesuai Ajaran Kerohanian Sapta Darma , 

Keyainan kepada Hyang Maha Kuasa tidak boleh separuh-separuh, kalau kita diberi sakit seperti cerita diatas, tentu saja mengandung pengertian bahwa Tuhan masih sayang kepada kita, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat, Tuhan masih mencintai kita, tetapi kita sebagai manusia kadhang lupa tentang kekuasaan Tuhan kepada kita, bahkan kita malah selalu ingin menghindar atas kelalian kita, dan kita selalu ingin mencari jalan instant sebagai penyelamat dengan cara mencari orang-orang yang dianggap mempunyai kelebihan, mencari orang-orang yang dianggap mampu mengatasi permasalahan hidup kita.

Bukankah Sri Gutomo pernah mengatakan dalam buku dasa warsa, “JANGANLAH WARGA PERCAYA PADA BARANG KLENIK & DUKUN” artinya kalau kita percaya kepada orang-orang yang dianggap pinter atau mempunyai kelebihan, dan ternyata orang itu menggunakan kekuatan roh-roh penasaran, atau kekuatan saudara sebelas, maka orang yang meminta tolong tentu saja sudah berhutang kepada kekuatan itu (entah saudara sebelas atau roh-roh penasaran).

Jadi keyakinan kita kepada Hyang Maha Kuasa haruslah keyakinan yang betul – betul mutlak, tidak menduakan kekuasaan-Nya, harus dengan cara-Nya untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan ini …..

Selamat mencoba ……..salam Waras.

Catatan : 
Tulisan ini sedianya akan dimuat pada Gesa edisi 2, namun ada kendala pada penerbitannya maka daripada menunggu waktu yang tak pasti maka saya kirimkan untuk kita semua (bagi facebooker), buat yang lain (gak bisa online) mungkin cukup dicopykan aja dulu.

“ Jika Meninggal; Meninggalah Cara Manusia”

Oleh : Joyo Disastro

Sri Gutomo : “ Jika Meninggal; Meninggalah Cara Manusia”

Dalam ceramahnya pernah Bu Sri Pawenang mengatakan : Jika kita berbicara rohani walau ttg diri sendiri, namun se-olah2 menyinggung perasaan org lain; hal itu karena dalam diri setiap org/manusia mempunya rohani. Maka yg terbaik adalah perenungan dan introspeksi. Dlm kesempatan lain beliau bercerita pd penulis ttg wejangannya Pak Sri (Sri Gutomo).


Dihadapan para tuntunan, Sri Gutomo mengatakan : “Setiap orang pasti akan mati (meninggal dunia). Namun jika mati, maka matilah cara manusia, jangan mati cara satok khewan”. Pa Sri menghentikan kata2nya dan memandangi keseputar yg hadir. Audiens menjadi hening tak ada yg bersuara. Walau di hati tersimpan rasa ingin tahu, wejangan yang dimaksud. Memang dlm diri Sri Gutomo, terpancar kharisma yg begitu kuat. Jika sdg memberikan wejangan begitu semangat dan matanya terbuka lebar, seakan melototi yg hadir. “Mati cara manusia itu bagaimana dan yg cara satok khewan itu bagaimana Pak Sri?”. Tiba2 terdengar pertanyaan dari salah satu yg hadir. Yg lainnyapun menggumamkan suara lega, pada akhirnya ada yg berani juga bertanya, mewakili pertanyaan semua orang. “Mati cara manusia itu yah matinya di rumah, paling tidak di rumah sakit. Sementara mati cara satok khewan itu adalah seperti ketlindes truk, kecemplung blumbang, tergilas kreta, terbantai dll”.

Penulis meminta penjelasan lebih lanjut pd Bu Sri tentang wejangan diatas; “Yah…tiap org kan mempunyai jalan hidup dan guratan takdir masing2. Hal itu disebabkan karena perilaku dan tesing dumadinya. Tapi kan tidak perlu khawatir, jika tekun sujudnya, jika sampai sujudmu pd Tuhan, kamu minta ampun pastilah kesalahan2mu akan diampuni dan hukumanmu akan terkurangi”. Begitu penjelasan beliau. “Lalu Bu, jika dikatakan Dasar dgn Ajar, itu kuat mana Bu? Kan jika dasarnya org itu mengalami nasib A misalnya, dimana peristiwa A ini tidak baik, terus bagaimana? Apakah dgn Ajar org itu bisa, tidak mengalami peristiwa A?” penulis bertanya lebih lanjut. “Di Sapta Darma ini dgn ajaran sujudnya, bisa merubah dasar, asal sujudnya itu benar2 sampai pd Tuhan untuk mohon ampun dan bertobat. Cobalah kamu sujud tekun sampai sujudmu ‘nglonyoh’ “ jawab beliau. (nglonyoh yg dimaksud beliau artinya; suatu kondisi dimana sujud dan pengamatan rasanya sudah sangat terbiasa dilakukan tanpa batas, sehingga ketika patrap sujud, maka dgn cepat dapat memisahkan antara rasa dgn pangrasa, sehingga sujudnya itu benar2 sujud rohani, artinya Hyang Maha Suci menyatu dgn getaran Sinar Cahya Allah. Ketika Hyang Maha Suci sudah menyatu dgn Sinar Cahya Allah, dgn ijin dan kemurahan Tuhan kita bisa mengetahui jadwal hidup kita. Dan jika jadwal itu tidak baik, maka kita usaha dan upaya untuk memperbaikinya”. Beliau memberi penjelasan lebih lanjut. “Wah…angel n susah!” Penulis membathin. “Pancen tidak mudah jika hanya dipikir, tapi cobalah dimulai. Berani mengatasi rintangan seperti malas, ngantuk dsb, pasti bisa” Kata beliau menjawab bathin penulis. Untuk mengalihkan rasa malu, penulis segera bicara lagi “Wah repot ya Bu! Kita punya kesalahan pribadi dan kesalahan bawaan leluhur, sementara untuk sujud seperti yg Ibu maksud itu sulit sekali Bu?” Tanya penulis asal. “Ya repot atau tidak, sulit atau tidak, semua tergantung pada diri kita dalam memandang, menyikapi. Kewajiban kita Cuma menjalankan titahNYA,dan kita menjalani ajaran Sujud, yg bisa membuka cakrawala spiritual, maka yang tidak kita bayangkan dan bahkan diluar nalar wadag, bisa saja terjadi. Satu hal lagi yg penting, peningkatan mutu rohani itu harus diimbangi dgn perilaku baik. Sebab sekuat apapun laku peningkatanmu melalui sujud, namun jika perilaku masih mencerminkan kemauan nafsu sedulurmu, usahamu itu dapat dikatakan sia-sia”. Nah sampai disini penulis merasa cukup menerima wejangan dari beliau, wadahnya sudah tidak mencukupi, maka begitu beliau menghentikan kata2nya, penulis pamit permisi. Lalu menuju dapur bikin kopi………….

PENYEMBUHAN NON MEDIK, DASAR PENGERTIANNYA, MENURUT PENGHAYATAN AJARAN KEROHANIAN SAPTA DARMA

Ditulis oleh : Antonius Sukoco

 
Diajukan sebagai naskah dalam seminar 
"Peranan non medik didalam pengobatan"
diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Oleh :
Sri Pawenang
Tuntunan Agung, Jurubicara Kerohanian Sapta Darma


Pengantar
Garis besar isi naskah ini sudah termuat dalam abstrak yang kami sampaikan kepada Panitia Penyelenggara Seminar beberapa hari lalu. Oleh karenanya tak perlu hal itu disinggung lagi.
Untuk memberikan penjelasan secara lengkap dan terperinci akan hal yang kami kemukakan adalah sulit, karena waktu yang diberikan yang memang harus terbatas tak memungkinkan untuk itu. Maka kami hanya akan mengemukakan hal2 yang esensial saja. Meskipun demikian diharapkan sudah dapat memberikan kejelasan yang diinginkan.

Hal-hal yang kami kemukakan sehubungan dengan "Penyembuhan Non Medik" banyak yang lebih bersifat abstrak daripada konkrit. Dan untuk yang demikian sering sukar untuk dijelaskan dengan logika ilmiah. Karenanya kami mencoba untuk memberikan keterangan dengan cara bukan menurut disiplin ilmiah secara murni, tetapi mempergunakan "dasar ilmiah dari suatu pengertian", dalam tujuan memudahkan uraian penjelasan.

Keawaman dibidang Ilmu Pengetahuan lain (khususnya Ilmu Kedokteran dan Ilmu Alam) membuat penjelasan2 kadang2 terasa janggal, tidak sesuai dengan "disiplin" ilmu yang tersangkut. Namun hal yang demikian diharapkan tidak merupakan sebab dari timbulnya kekaburan pengertian dari "pengertian" yang dimaksud.

A. Hubungan antara Makhluk didunia dengan Penciptanya.
Ajaran berdasarkan Ke Tuhanan memberikan pengertian bahwa semua yang ada milik Tuhan. Semua makhluk tercipta karena kehendak Tuhan.
"Unsur" Ke Tuhanan merupakan "dzat"utama bagi keberadaan suatu makhluk. Tanpa ini suatu keberadaan (maya ataupun nyata)tidak akan pernah ada.
Unsur itu adalah Sinar Cahya Allah.

Sinar Cahya Allah berperan sejak awal, akhir dan selama keberadaan sesuatu makhluk. Keberadaan suatu makhluk selamanya tidak akan lepas dari "jangkauan" Sinar Cahya Allah.
Sinar Cahya Allah meresap kedalam suatu keberadaan (abstrak ataupun konkrit) dan berubah menjadi pembentuk perwujudan. Pembentuk perwujudan itu "hidup" dan bergerak karena didukung oleh adanya Sinar Cahya Allah.

Kemudian saling berkumpul, berkembang dan entah apa namanya untuk membentuk suatu perwujudan. Dalam kejadian itu Sinar Cahya Allah tetap merupakan unsur utama.
Keadaan dan kemampuan lingkungan yang tercipta sebelumnya ikut berperan dalam proses perubahan dan perkembangan Sinar Cahya Allah menjadi pembentuk perwujudan dan proses selanjutnya. Sehingga dapat dilihat adanya makhluk Tuhan yang bermacam wujud, bentuk, kelakuan, watak dan sifat.

Peran dan wujud Sinar Cahya Allah sesudah terwujudnya makhluk, bermacam-macam. Sebagai atom2, sel2 dan bentuk2 lainnya yang nyata, ataupun wujud2 yang abstrak berupa rokhani, nafsu2, cipta, dan sebagainya.

B. Manusia, makhluk Tuhan yang tertinggi martabatnya. Manusia mempunyai martabat paling tinggi diantara makhluk Tuhan yang lain karena Tuhan telah memberikan "peralatan" yang lebih lengkap dan sempurna dibandingkan yang diberikan kepada makhluk lain.

Manusia dapat menjalankan kehidupannya berdasar program yang disusun oleh cipta, rasa dan karsa yang tidak mungkin dilakukan oleh makhluk lainnya. Perkembangan peradapan manusia yang menghasilkan seperti apa yang dapat dilihat menunjukkan "cerminan sifat2 Tuhan" yang diberikan kepada manusia melalui Rokhani manusia. Akan hal rokhani manusia, adanya cipta,rasa dan karsa Rokhaniah membuat manusia dengan mudah dapat mendekatkan diri kepada Tuhan untuk memohon. Dengan "memelihara" Rokhaninya, manusiapun dapat menggunakan "kekuatan-kekuatan" yang ada didalam pribadinya seoptimal mungkin untuk kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupannya. Dengan rohani pula manusia dapat mengendalikan nafsu2 yang ada dalam pribadinya untuk diarahkan pada tujuan2 baik.

Alat-alat dan kemampuan2 itulah yang membuat manusia mempunyai martabat yang lebih tinggi daripada makhluk Tuhan yang lain.


C. Penyembuhan dijalan Tuhan nenurut Ajaran Kerohanuian Sapta Darma.
C1. Sakit, pengertiannya menurut Ajaran Kerokhanian Sapta Darma
Tubuh manusia terdiri dari atom2. Atom-atom merupakan sesuatu yang hidup, bergetar, bergerak, saling tarik membentuk sel2, jaringan sel2 dalam komponen2 tubuh yang disebut otak, hati, tulang, kulit dan organ tubuh lainnya. Komponen-komponen membentuk suatu jaringan dalam sistim yang sempurna.

Pada tubuh manusia hidup yang normal, komponen2 dalam sistim merupakan komponen2 yang aktip dan kompak. Bergetar, berdenyut, bergerak, mengirim tanda, menyalurkan dan melaksanakan perintah, dll. dalam suatu tata kerja yang aktip, harmonis, bersama-sama mewujudkan sesuatu yang hidup.

Atom, sel dan komponen dapat menjalankan tugas karena pada itu terdapat "tenaga penggerak" bagiseluruh kegiatan.

Tenaga itu adalah "getaran2 hidup" yang terdiri dari : "getaran2" Sinar Cahya Allah dalam pribadi manusia; Cipta, rasa dan karsa Rokhaniah dan getaran2 sari2 bumi.

Jika diibaratkan, getaran2 hidup itu terhadap tubuh manusia : Sinar Cahya Allah sebagai "udara yang mengandung zat asam" bagi atom supaya tetap hidup;Cipta-rasa-karsa Rokhaniah merupalkan sumber tenaga bagi atom, sel, komponen agar tetap dapat bergerak; sedangkan sari2 bumi sebagai bahan bakar, minyak pelumas dan suku cadang.

Atom-atom dalam tubuh dapat mengambil daya dengan optimal jika atom2 dapat bekerja secara normal. Tersebut dapat terlaksana jika keseimbangan dan keselarasan tata kerja dalam sistim terpenuhi. Jika tidak, atom2 akan tak dapat sepenuhnya memanfaatka getaran2 hidup. Akibat lebih jauh adalah sel2, komponen2 yang dibentuknya kurang atau tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Dalam tubuh yang "seimbang" getaran2 hidup mendukung tugas atom, sel dan komponen dengan cara yang seimbang. Artinya sesuai dengan sistim dan kebutuhan tiap atom, sel, komponen. Gangguan bagi pelaksanaan tugas getaran2 hidup membuat "pelayanan" yang diberikan menjadi kurang/tak sempurna. Ini berarti kebituhan tiap atom, sel, komponen tidak terterpenuhi sebagaimana mestinya, dan timbulah kelainan2 pada atom, sel dan komponen.

Kedua hal tersebut diatas, pelaksanaan tugas atom yang tidak normal dan ketidak sempurnaan getaran2 hidup melakukan tugasnya, merupakan sebab dari timbulnya kelainan2 dalam tubuh. Kelainan-kelainan ini yang dinamakan sakit.

C.2. "Alat-alat dalam tubuh yang bisa dimanfaatkan dalam usaha penyembuhan".
Manusia hidup merupakan gabungan unsur jasmaniah dan unsur Rokhaniah.
Wadag manusia dengan segala
"Alat2" jasmaniah yang adanya hanya dapat ditandai dengan rasa dan mata abstrak (mata batin, mata rokhani) merupakan unsur jasmaniah abstrak.

C.2.1. Unsur jasmaniah nyata.
Dalam tubuh manusia terdapat jaringan sarap dengan otak kecil sebagai pusatnya. Pada tempat2 tertentu dalam jaringan rasa terdapat talirasa2 (simpul sarap ?) yang ditandai dengan dua puluh macam nama. Talirasa yang dua puluh macam itu berjumlah tiga puluh buah, terletak di tiga puluh tempat dalam tubuh manusia.

Macam nama diambilkan dari nama2 hurup Jawa yang jumlahnya dua puluh.
Duapuluh macam nama, tiga puluh talirasa tersebut adalah:

1. "Ha" yang terletak dipangkal lidah (Bhs.Jw.: tenggok)
2. "Na" pada pangkal leher bagian depan, pada arah lurus dengan letak pipa napas bercabang.
3. "Ca" ditengah-tengah tulang dada (Jw.: Iga malang).
4. "Ra" pada ujung tulang dada (kecer ati).
5. "Ka" tepat pada pusat (puser).
6. "Da" di "bathukan", sebelah atas kelamin.
7. "Ta" pada tulang ekor.
8. "Sa" pada rulang belakang (ula2), segaris lurus dengan "ka".
9. "Wa" dibawah tulang belikat (enthong2). (2)
10. "La" tepat di tengkuk.
11. "Pa" diketiak kiri dan kanan. (2)
12. "Dha" pada siku bagian depan (lipatan siku). (2)
13. "Ja" terletak pada pergelangan tangan, bagian depan. (2)
14. "Ya" ditelapak tangan. (2)
15. "Nya" dibawah kedua tetek. (2)
16. "Ma" pada pangkal kedua selangkangan. (2)
17. "Ga" dibagian depan lutut.(2)
18. "Ba" pada kedua pergelangan kaki. (2)
19. "Tha" terletak dikedua telapak kaki. (2)
20. "Nga" terletak tepat ditengah antara dua kening.

Ke tiga puluh buah talirasa merupakan alat bagi usaha penyembuhan.
Sarinya sari2 bumi dalam tubuh manusia merupakan "Makhluk" dengan getaran2 hidup yang paling sempurna sesudah Sinar Cahya Allah dan Rokhani.Kemampuan yang mendekati unsur aslinya (Sinar Cahya Allah) merupakan faktor penting dari sarinya sari2 bumi untuk dimanfaatkan dalam usaha penyembuhan.

Sarinya sari2 bumi pada keadaannya , merupakan suatu dalam tubuh yang memiliki getaran-getaran hidup meskipun tidak se sempurna tubuh manusia dimana itu terjadi.


C.2.2. Unsur Jasmaniah Abstrak.
Nafsu-nafsu, cipta, rasa dan karsa jasmaniah merupakan unsur jasmaniah yang abstrak.
Dalam Simbol Pribadi Manusia, nafsu2 digambarkan sebagai lingkaran dalam warna: hitam, merah, kuning dan putih.

Nafsu2 hitam, merah dan kuning adalah nafsu2 yang betul2 bersifat jasmaniah. Sedang nafsu putih meskipun timbul dari Rokhani, dengan melihat faktor pengaruh jasmaniah yang menyebabkan timbulnya nafsu itu, digolongkan sebagai nafsu jasmaniah.

Nafsu2 diperbanyak macamnya dan dimiliki oleh "Saudara" dalam pribadi manusia yang ditandai dengan dua belas nama. Macam2 nafsu merupakan watak, sifat dan kelakuan daripada Saudara manusia yang dua belas macam itu.

Dihitung dengan angka, saudara manusia dalam pribadinya ada 14 tempat.
Adanya dapat dibuktikan dengan rasa dan mata batin. wujud,rasa, tabiat, watak, dan sifatnuya.
Penelitian pada hal itu menunjukkan selain Rokhani sebagai salah satu saudara, saudara yang lain yang bernama Bagindakilir dapat dimanfaatkan sebagai alat dalam penyembuhan. Bagindakilir terletak pada ujung jari2 tangan kanan-kiri.

Cipta, rasa dan karsa jasmaniah dapat dipandang sebagai alat dalam usaha penyembuhan. Sebab, pada waktu dilakukan penyembuhan cipta harus diam, rasa seolah-olah harus dimatikan dan karsa harus sepenuhnya tertuju pada keinginan untuk sembuh; boleh dikatakan semacam sugesti.


C.2.3. Unsur-unsur Rokhaniah.
Rokhani manusia mempunyai Cipta, Rasa dan Karsa. Dihubungkan dengan cipta, rasa dan karsa jasmaniah : Cipta dan Karsa Rokhaniah merupakan pendukung utama bagi kesempurnaan kerja cipta dan karsa jasmaniah. tanpa Cipta dan Karsa Rokhaniah, cipta dan karsa jasmaniah tak akan dapat berfungsi.

Rasa Rokhaniah yang berfungsi sebagai unsur hidup terdapat diseluruh tubuh, memegang kemudi terhadap rasa2 jasmaniah manusia.

Cipta Rokhani bertugas mengadakan hubungan dengan Hyang Maha Kuwasa. Mencapai tempat2 yang dikehendaki dengan "Gelombang pikiran" dengan tenaga/ daya penggerak berupa Karsa Rokhani. Cipta Rokhani juga bertugas menuntun cipta dan karsa jasmaniah untuk berjalan pada jalur yang benar.

Karsa Rokhani merupakan penggerak Rokhani termasuk Cipta dan Rasanya. Boleh dikatakan Karsa Rokhani merupakan cerminan dari Karsa/Kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Tentu saja karena hanya cerminan, Karsa Rokhani mempunyai kemampuan yang terbatas.

Melihat pada tugas Cipta, Rasa dan Karsa Rokhani; dapatlah diyakinkan bahwa itu dapat dimanfaatkan untuk usaha penyembuhan.

Keyakinan itu akan makin kuat jika dimengerti tugas sebenarnya daripada Rokhani terhadap manusia yaitu sebagai pamomong, penuntun jasmani agar jasmani bahagia, tenteram selamat dalam menjalankan segala gerak kehidupannya.

Untuk membedakan Sinar Cahya Allah dalam pribadi manusia dengan Sinar Cahya Allah yang ada diluar pribadi manusia, Sinar Cahya Allah dalam pribadi disebut sebagai unsur Rokhaniah.
Karena fungsinya sebagai pendukung untuk keberadaan segala sesuatu didalam tubuh, maka unsur Rokhaniah ini jelas mempunyai kemampuan. Kemampuan Sinar Cahya Allah dalam pribadi ini dapat dimanfaatkan sebagai alat penyembuhan.


C.3. Cara Penyembuhan.
Ada lima cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan :
Sabda Usada, Menggarap Talirasa, Sujud, Ulah Rasa dan menggerakkan Bagindakilir (Nur Rasa).


C.3.1. Penyembuhan dengan sabda Usada.
Dilakukan untuk penyembuhan terhadap orang lain, jarak jauh atau jarak dekat. Caranya :


  • Didahului dengan ening dirasakan berkumpulnya getaran-getaran hidup berkumpul di-ubun2 tempat Rokhani bersemayam. Getaran-getaran hidup tersebut ditarik oleh Rokhani. Tentu saja tidak semuanya, sebab masih diperlukan dukungan untuk menggerakkan seluruh atom, sel, komponen tubuh.
  • Pada saat ketiga getaran hidup berkumpul, pada saat itu pula ubun2 "terbuka" dan melesatlah Cipta Rokhani dengan tenaga penggerak karsa Rokhani, menuju sumber segala keberadaan.
  • "Diperhatikan" batin Rokhani mengucap: Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil.
  • Dirasakan Sinar Cahya Keagungan, Kerokhiman, Keadilan Tuhan masuk dalam pribadi dan meleburperpaduan ketiga getaran2 hidup menjadi "daya/kekuatan" yang untuk mudahnya dinamakan "atom berjiwa", atom2 rokhaniah yang dapat dikendalikan oleh Rokhani. 
  • Diperhatikan selanjutnya,batin Rokhani mengucap: Hyang Maha Kuasa nyabda si A waras (Hyang Maha Kuasa menyabda si A sembuh).
  • Dirasakan getaran pengaruh atom berjiwa turun kemulut.
  • Keluar dorongan ucapan: Waras 
  • Dikirimkan atom berjiwa oleh Cipta dan Karsa Rokhani kepada penderita. Untuk jarak dekat kiriman langsung ditujukan pada bagian yang sakit.
C.3.2. penyembuhan dengan menggarap Talirasa.  Dilakukan untuk penderita sakit ingatan, atau sakit yang ada hubungannya dengan kerja sarap, sakit karena ada bagian badan yang kurang/tidak sehat. Caranya :

  • Ening, dibentuk atom berjiwa.
  • Talirasa yang berhubungan dengan badan yang sakit (pada penderita) diputar-putar (diuyek-uyek) dengan jari tengah tangan kanan sambil atom berjiwa disalurkan ketubuh sisakit melalui itu. Apabila Rokhani memandang sudah cukup, sabda waras dikeluarkan sambil getaran Sinar Cahya Allah dalam pribadi dikirimkan untuk menyempurnakan pekerjaan itu.
  • Usaha penyembuhan ini dilakukan oleh "pelantar" dari jenis kelamin yang sama dengan penderita. Jika tidak memungkinkan, penyembuhan dilakukan dengan Sabda Usada, atau dengan cara menggarap Talirasa dengan kesaksian keluarga penderita yang menunggui usaha penyembuhan itu.
Syarat tersebut dikenakan dan harus ditaati untuk menjaga kesusilaan, kehormatan dan mencegah timbulnya hal2 yang tidak baik.

C.3.3. Penyembuhan dengan jalan Sujud.
Dilakukan oleh penderita yang menginginkan kesembuhan.
Sujud berguna untuk : meleremkan dan mengendalikan nafsu mendudukkan Rokhani pada tugas sebenarnya, mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjaga kesehatan (sebagai manfaat sampingan). Dapat juga dipergunakan sebagai usaha penyembuhan.

Dalam sujud, getaran2 hidup ditarik rokhani dan berkumpul di-ubun2.Pada saat Rokhani kontakdengan sumber hidupnya, Sinar-sinar Cahya dalam sifatnya yang masih murni masuk dan meresap kedalam pribadi manusia. Sinar-sinar Cahya Allah itu melebur gabungan tiga unsur menjadi atom berjiwa dan menyempurnakan getaran2 hidup yang lain sehingga kerja daripada atom, sel, komponen makin dan lebih seimbang. Penggantian atom2 yang tidak fungsional dan perbaikan alat yang mengalami ganguan makin dipercepat.

Dalam melakukan sujud untuk penyembuhan; Sinar Cahya Allah dalam sifatnya yang masih murni yang masuk kedalam pribadi, atom berjiwa yang terbentuk; seluruhnya dapat ditujukan dan dikumpulkan pada bagian tubuh yqang sakit.

C.3.4. Penyembuhan dengan Ulah Rasa.
Ulah rasa dilakukan untuk: menyelaraskan kembali getaran-getaran hidup yang belum sempurna bekerjanya, yang mana tidak bisa dicapai pada waktu menjalankan sujud.
Ulah rasa yang dijalankan setelah sujud selesai dilakukan ini, pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

  • Telentang, lurus, tangan disamping badan, telapak tangan menghadap keatas. Semuanya serba kendor; otot, daging, sarap, pakaian,. Napas diatur seenak dan sehalus mungkin.
  • Mata terpejam, cipta-rasa-karsa jasmaniah diam.
  • Ening, ubun2 dibuka, rasakan getaran2 yang ditarik oleh Rokhani sejak ujung jario kaki sampai terkumpul diubun-ubun.
  • Rasakan turunnya getaran dari ubun2, rasakan getaran2 merayap keseluruh bagian tubuh, menyempurnakan getaran2 lain yang tertahan ("beku"), rasakan getaran2 membuka simpul sarap (talirasa), dan akhirnya merasalkan sampai diujung kaki kembali.
  • Dengan penyelarasan getaran2 hidup , kesehatan akan lebih terjamin. Lebih lanjut dapat dilakukan hal berikut.

Sesudah merasakan getaran2 yang turun dari ubun2 sampai keujung jari2 kaki, dapat dirasakan keluar masuknya hawa melalui pori2 kulit, lama2 dapat terasa se-olah2 napas tidak hanya melalui hidung, tapi juga melalui seluruh permukaan badan. 
Terasa bahwa badan memang sebetulnya bukan barang yang betul2 padat melainkan seperti saringan. Dalam keadaan ening demikian Sinar-sinar Cahya Allah diluar tubuh lebih banyak "diisap" dan bersama-sama getaran hidup yang ada dalam tubuh "membunuh" bibit2 penyakit yang akan keluar bersama keluarnya keringat.
Dapat dirasakan pula denyutan jantung, mengalirnya darah dalam pembuluh, getaran simpul2 sarap, merayapnya getaran hidup melalui sel2 dalam tubuh, dan lain2 yang bisa dirasakan . Bagian-bagian yang dirasakan akan menjadi lebih kuat dan tahan lama. Itulah cara menjaga kesehatan dengan ulah rasa.

Untuk mengusahakan kesembuhan dapat dilakukan dengan menggerakkan Nur Rasa (Bagidakilir), yaitu sesudah getaran2 hidup berkumpul di-ubun2. Nur Rasa dapat diminta untuk menyembuhkan bagian badan yang sakit.

C.3.5. Penyembuhan dengan menggunakan Bagindakilir.
Berlainan dengan cara menggerakkan Bagindakilirdalam ulahrasa, cara ini dilakukan dalam rangkaian pesujudan.

Cara penyembuhan ini jarang dilakukan. Selain kesannya kasar hingga kadang2 aneh dan menggelikan, sisakit yang bersangkutan bisa merasa malu meskipun hanya untuk sementara.
Pada keadaan2 tertentu, misalnya pada orang yang kurang puas/manteb dengan cara halus, gerak Bagindakilir dipergunakan untuk penyembuhan.

Sesudah sujud wajib dilakukan, bungkukan badan dalam sujud ditambah satu kali. Pada kali terakhir ini Rokhani meminta pada Bagindakilir untuk bergerak mengusahakan kesembuhan.

Sesudah ucapan selesai, badan kembali duduk tegak kemudian tangan diatur dalam sikap sembah. Setelah itu tangan dengan sendirinya bergerak, menjamah, mengusap, menepuk, memukul atau menggerakkan bgian2 badan yang sakit. sampai berhenti dengan sendirinya atau diminta.
Untuk orang2 yang sudah "halus" Rokhaninya, gerak tersebut juga makin halus.
dalam hal sisakit belum bisa menggerakkan baginda kilir, tuntunan sujud dapat minta geraknya Bagindakilir sisakit kepada Tuhan.

C.4. Pengertian.

Penyembuhan yang dikemukakan pada pelaksanaannya menunjukkan cara2:

1) Penggabungan tiga unsur getaran2 hidup.
2) pembentukan atom berjiwa.
3) Pengiriman dan pemanfaatan atom berjiwa.
4) Menghilangkan gangguan2 terhadap kelancaran tugas getaran2 hidup.
5) Menyelaraskan dan menyeimbangkan tata kerja atom, sel, komponen tubuh.
6) Menguatkan atom2, sel2, komponen2.

Penyembuhan dengan cara itu sebenarnya merupakan pengembangan dari suatu proses yang sudah ada.

Dalam tubuh, atom2 berjiwa selalu terbentuk dengan sendirinya. Berlangsung secara organis, tanpa disadari. Secara organis sarinya sari2 bumi berkumpul dengan getaran2 Sinar Cahya Allah dan getaran Rasa Rokhaniah membentuk atom berjiwa, hormon2, energi atau entah apa namanya.
Dengan ening, sujud, dsb. pembentukan atom berjiwa dapat dilakukan setiap saat dengan proses yang dapat diikuti secara sadar. Penyebaran ataupun konsentrasi atom berjiwa bisa dikehendaki dan digunakan; terkendali dan terarah pada sasaran yang dimaksud.

Pembentukan atom berjiwa cara Rokhaniah dapat dikatakan, (sebagai salah satu bagian dari kemungkinan yang timbul), merupakan proses pembuatan obat didalam tubuh manusia.
tak berbeda dengan obat yang dikenal dalam bidang medik yang mana juga mengandung unsur Sinar Cahya allah didalamnya, setelah masuk kedalam tubuh akan bertemu dengan Sinar Cahya Allah dan getaran2 hidup yang lain kemudian diubah sebagai atom2 yang mampu menghilangkan sakit.
Dua hal diatas memberikan pengertian bahwa: Penyembuah dengan menggunakan dua cara (medik dan medik Rokhaniah, tak dapat diragukan merupakan cara penyembuah yang sangat efektip.
Pengetahuan medik memberikan obat dengan khasiat tertentu atau khusus yang efektip sebagai alat penyembuh. Pengertian non medik (Rokhaniah) memberikan cara membuat atom berjiwa sebagai obat; cara yang langsung berguna untuk menyempurnakan kemampuan obat medik. Selanjutnya efektifitas daripada gabungan dua macam obat ini dilakukan dengan menyalurkannya secara penuh pada bagian tubuh yang membutuhkan.

Penyembuhan non medik sebagaimana diungkapkan selalu :
1) Dilakukan dalam keadaan ening.
2) Rokhani memegang peranan utama.
3) Disebut dan dimintakan Kekuasaan Tuhan.
4) Disempurnakan gabungan tiga unsur getaran2 hidupmnjadi atom berjiwa oleh Sinar Cahya Allah dalam sifatnya yang masih murni.


Tersebut diatas memberikan pengertian bahwa, dalam usah penyembuhan non medik macam itu :
1) Manusia tidak mempunyai peran apa2 selain sebagai alat.
2) Semua tergantung pada Ulah Rokhani dan Kehendak Tuhan.

Dengan demikian tak layaklah jika mausia menyombongkan diri sebagai yang berkemampuan melakukan penyembuhan. Kemampuannya hanyalah sebagai pemegang peran "pelantar/perantara" saja.

Ketergantungan manusia terhadap Rokhaninya dan Tuhan merupakan suatu tanda bahwa kemampuan manusia terbatas adanya.

Lebih-lebih jika dimengerti bahwa Rokhani sendiri sebenarnya dalam mengembangkan kemampuannya tergantung keadaan dalam pribadi manusia sendiri.

Mampukah nmanusi dalam menggunakan cipta rasa dan karsanya tidak dibawah pengaruh nafsu2; bagaimanakah keadaan Rokhani sejak sebelum lahir dan sesudah menjalankan kehidupan didunia nyata.

Keadaan Rokhani sejak sebelum lahir, selama kehidupan jasmaniah berlangsing, sifat/watak dasar, perkembangan cipta rasa, karsa manusia mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan Rokhani.
Digunakannya nama dan kekuasaan Tuhan membuat lebih tak pantas jika manusia menggunakan "kemampuan" yang ada dalam dirinya sebagai pelantar kesembuhan untuk tujuan mencari keuntungan atau uang.

Dalam hal ini wajiblah syaratnya, jika pertolongan yang diberikan adalah tanpa pamrih apapun kecuali untukl kesembuhan dan kebahagiaan orang lain, dan dilakukan denga pengertian serta kesadaran bahwa tersebut hanyalah sekedar melaksanakan KeRokhiman Allah.

Komersialisasi Nama dan Kuasa Tuhan jelas merupakan suatu hal yang tak bisa dibenarkan. Hukum Tuhan mungkin akan menimpa terhadap pelanggaran ketentuan ini.

Ketergantungan manusia pada Rokhani dan Tuhan memberikan pengertian bahwa : Kemampuan sembuh pada seseorang sakit pada hakekatnya terletak/tergantung pada sisakit sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan.

Artinya sembuh dan tidaknya tergantung atas Kehendak?Kuasa Tuhan. Oleh karenanya sudah wajarlah jika manusia sewajibnyalah selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan baik selama sehat, lebih2 dalam keadaan sakit.

D. Penutup
Naskah ini bukan bermaksud mengemukakan suatu hipotesa bukan pula mengajukan semacam tese. Karenanya tidaklah didapati adanya "argumentasi" ataupun bukti2 yang mendukung komentar yang dikemukakan.

Mungkin juga inti dari isi naskah lepas dari maksud diadakannya seminar yaitu tidak diberikannya suatu yang mantab yang merupakan suatu kesimpulan, karena memang tidak dikemukakan suatu analisa yang menuju kepada kesimpulan itu.

Apa yang diajukan adalah hasil penelitian pribadi yang sifatnya umum, artinya bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, umum lebih2 kedudukan. Hasil yang sulit diungkapkan menurut disiplin ilmiah yang benar. Bahkan ungkapan mengenai "apa dan bagimana adanya" mungkin tidak logis, irasionil menurut pertimbangan akal dan pikir.

Namun hal itu bukan merupakan suatu sebab bagi ketidakmungkinan dibukanya ruang diskusi/sararehan meskipun sebenarnya sulit untuk dilakukan. Sebab sebagaimana dimaksudkan bahwa semuanya merupakan pengalaman pribadi dalam arti "pengalaman batin" yang diperoleh dengan pengolahan/penggulowentahan Rasa dan Rokhani. Suatu yang abstrak yang sulit untuk diceriterakan dengan kata2, ataupun diperagakan dengan alat2 bukan abstrak. Lagipula suatu forum diskusi jelas membutuhkan media komunikasi berupa "bahasa" yang sama.
ketidak samaan "bahasa" dalam diskusi dapat membuat jalan bersimpang tanpa menghasilkan kesimpulan ataupun sesuatu yang bermanfaat.

Akhir kata, kepada Panitia Seminar dan juga kepada IDI (Ikatan Dokter Indonesia), atas nama seluruh Warga Kerokhanian Sapta Darma kami menyampaikan terima kasih kami, atas pemberian waktu dan kesempatan untuk menyampaikan isi dan inti daripada naskah ini, yang merupakan dasar pengertian daripada Ajaran Penyembuah menurut Kerokhanian Sapta Darma.

Semoga Seminar ini bermanfaat bagi kemanusiaan, dengan perkenan Allah Hyang Maha Agung, Maha Rokhim dan Maha Adil.


Terima kasih.
Yogyakarta, 3 Maret 1979


(Sri Pawenang)