Selasa, Agustus 09, 2011

SEJARAH BAGIAN V

SEJARAH PENERIMAAN WAHYU WEWARAH SAPTA DARMA
DAN PERJALANAN PANUNTUN AGUNG SRI GUTAMA
(BAGIAN V - BAB II)


DIKELUARKAN OLEH
SEKRETARIAT TUNTUNAN AGUNG
KEROKHANIAN SAPTA DARMA
UNIT PENERBITAN

Sanggar Candi Sapta Rengga - Surokarsan MG.II/472 Yogyakarta 55151
Telepon/Fax : (0274) 375337 - Email : saptadarma@yahoo.com


Untuk meyakinkan tentang kebenaran Ajaran Racut yang diterima oleh Bapak Hardjosopoero tersebut, maka kepada para sahabat dimintanya satu demi satu secara bergantian melakukannya juga, mati di dalam hidup (racut).
Pelaksanaan racut bagi semua sahabatnya ditunggui pula oleh Bapak Hardjosopoero. Pengalaman para sahabatnya dalam perjalanan racut masing-masing tidak ada yang sama. Namun dalam hal-hal yang pokok adalah sama, misalnya melalui alam yang enak sekali, sampailah pada sebuah rumah yang besar dan indah pemandangannya dan mengetahui pula orang yang bersinar bagaikan Maha Raja. Tetapi tak seorang pun diantara para sahabat yang melakukan sujud kepada Allah Hyang Maha Kuasa di rumah besar itu. Pemberian yang diterima dari orang yang bersinar bagi para sahabat ada yang berbentuk bunga dalam vas, ada yang berupa pakaian dan ada pula yang tidak diberi apapun. Namun kesemuanya itu telah meyakinkan para sahabat akan kebenaran yang telah dilakukan oleh Bapak Hardjosopoero.
Sejak diterimanya Wahyu Racut semua sahabat harus berkumpul di rumah Bapak Hardjosopoero, dan tidak boleh berkumpul sujud di rumah sahabat yang lain. Dengan demikian setiap malam hari para sahabat selalu berkumpul di rumah Bapak Hardjosopoero untuk melaksanakan sujud bersama. Di samping itu juga latihan-latihan racut yang dilakukan oleh seluruh sahabat.
Perlu dijelaskan di sini bahwa pada suatu waktu Bapak Hardjosopoero dalam melaksanakan sujud bersama dilakukannya pula racut seperti yang pernah dialami pada waktu-waktu yang lalu. Ternyata dalam melakukan racut Bapak Hardjosopoero selalu dapat berjumpa dengan sang Maha Raja, bahkan Bapak Hardjosopoero diberi juga Kotang Ontokusumo dan Caping Basunondo. Pernah diterima pula dari sang Maha Raja, Bongkok (tangkai daun kelapa, papah blarak : Jawa), Satu Panah dan Buku Besar. Sewaktu-waktu Bapak Hardjosopoero dengan mudah dapat melakukan racut, sehingga apapun yang dikerjakan oleh Bapak Hardjosopoero adalah suatu petunjuk yang benar dari Allah Hyang Maha Kuasa.

2.2.4 PENERIMAAN WAHYU SIMBUL PRIBADI MANUSIA, WEWARAH TUJUH DAN SESANTI (12 JULI 1954)
Pada tanggal 12 Juli 1954 pukul 11.00 WIB, Bapak Hardjosopoero telah kedatangan empat orang tamu, yaitu Bapak Sersan Diman, Bapak Djojosadji, Bapak Danoemihardjo (seorang mantri guru Taman Siswa, Pare, Kediri) dan Bapak Marto.
Sewaktu mereka sedang asyik bercakap-cakap, tiba-tiba di atas meja tamu secara perlahan-lahan tampak pemandangan sebuah gambar yang bercahaya, makin lama makin jelas, tetapi sebentar kelihatan sebentar lagi menghilang. Pada waktu pemandangan gambar simbul kelihatan jelas lagi di atas meja tamu, maka dengan tiba-tiba Bapak Sersan Diman berdiri tegak dengan menunjuk ke arah gambar sambil berkata keras berulang kali :
“INI HARUS DIGAMBAR, INI HARUS DIGAMBAR………”

Salah satu diantara kawan-kawannya segera pergi ke toko untuk membeli alat-alat gambar berupa kain putih (mori), cat dan kuas. Setelah memperoleh alat-alat tersebut, Bapak Hardjosopoero segera mulai melukis gambar simbul tersebut. Pada waktu asyik menggambar tiba-tiba gambar menghilang sekejap dan terhentilah menggambarnya, setelah kelihatan kembali diteruskanlah menggambar sampai selesai. Pada saat itu pemandangan gambar simbul tersebut tidak hanya kelihatan di atas meja tamu saja, melainkan tampak pula memenuhi dinding rumah Bapak Hardjosopoero. Pemandangan gambar simbul pada dinding rumah itupun sebentar kelihatan sebentar menghilang, sehingga para tetangga dekat sekitarnya yang menyaksikan timbul rasa heran dan dalam hati bertanya-tanya hiasan apa itu dan apa maksudnya?
Gambar ini bernama Simbul Pribadi Manusia yang bertuliskan huruf Jawa  (Sapta Darma) dan (Nafsu, Budi, Pakarti). Anehnya setelah gambar simbul selesai digambar kemudian menghilang dari pandangan mata untuk seterusnya.

Pada hari itu juga tanggal 12 Juli 1954, setelah diterimanya Wahyu Simbul Pribadi Manusia, diterima pula Wahyu Wewarah Tujuh. Peristiwanya sama dengan penerimaan Wahyu Simbul Pribadi Manusia. Bedanya ialah terletak pada bentuknya. Wahyu Wewarah Tujuh berupa tulisan yang kalimat demi kalimat terlihat, ada yang di dinding rumah bagian dalam, ada yang di lantai, ada yang jatuh ke dada Bapak Hardjosopoero dan ada pula yang jatuh di atas meja. Merupakan tulis tanpa papan atau Sastra Jendra Hayuningrat.

Tulisan itu menggunakan huruf latin, tetapi Bahasanya Jawa. Oleh karena tulisan tersebut sebentar kelihatan dan sebentar menghilang seperti halnya pemandangan gambar Simbul Pribadi Manusia, maka pada waktu tulisan kelihatan kembali segera dibagikan tugas penulisannya. Bapak Sersan Diman menulis angka 1 s/d 4, sedang Bapak Danoemihardjo menulis angka 5 s/d 7.
Setelah Bapak Sersan Diman dan Bapak Danoemihardjo selesai menulisnya, maka pengamatan penelitiannya diserahkan kepada Bapak Hardjosopoero, Bapak Djojosadji, dan Bapak Marto termasuk pula Bapak Sersan Diman dan Bapak Danoemihardjo untuk mencocokkan dengan tulisan aslinya yang merupakan tulis tanpa papan secara cermat. Kemudian setelah tulisan tersebut sudah cocok dengan aslinya, maka tulisan aslinya (tulis tanpa papan) hilang dari pandangan untuk seterusnya.
Adapun Wahyu Wewarah Tujuh tersebut selengkapnya sebagai berikut :

WEWARAH PITU

Wadjibing Warga Sapta Darma
Saben Warga kudu netepi wadjib 
1) Setija tuhu marang anane Pantjasila.
2) Kanthi djudjur lan sutjining ati kudu setija anindakake angger-angger ing Negarane.
3) Melu tjawe-tjawe atjantjut tali wanda andjaga adeging Nusa lan Bangsane.
4) Tetulung marang sapa bae jen perlu, kanthi ora nduweni pamrih apa bae kadjaba mung rasa welas lan asih.
5) Wani urip kanthi kapitajan saka kekuwatane dewe.
6) Tanduke marang warga bebrajan kudu susila kanthi alusing budi pakarti tansah agawe pepadang lan mareming lijan.
7) Jakin jen kahanan donja iku ora langgeng tansah owah gingsir (hanjakra manggilingan).

Demikianlah bunyi Wewarah Tujuh yang diterima pada tanggal 12 Juli 1954, setelah diterima Simbul Pribadi Manusia.

Setelah diterimanya Wahyu Simbul Pribadi Manusia dan Wewarah Tujuh, pada hari itu juga masih diterima lagi Wahyu Sesanti yang bunyi selengkapnya seperti berikut :

SESANTI
Ing Ngendi Bae, Marang Aapa Bae
Warga Sapta Darma
Kudu Sumunar Pindha Baskara.

Dengan telah diterimanya Wahyu Simbul Pribadi Manusia, Wewarah Tujuh dan Sesanti oleh seorang putra Bangsa Indonesia dari Allah Hyang Maha Kuasa, penerimaan ajaran ini semakin menjadi terang benderang, bagaikan suasana di waktu pagi hari terkena sinar surya yang baru terbit di sebelah timur, meliputi seluruh isi alam semesta, baik manusia maupun tumbuh-tumbuhan dan hewan. Semua mendapatkan sinar sang surya untuk mengembangkan hidupnya.
Sejak hari itu baru dimengerti bahwa sujud yang dilaksanakan oleh  Bapak Hardjosopoero dan para sahabatnya, sebagai perilaku pendekatan pribadi (hidup) manusia dengan Allah Hyang Maha Kuasa, adalah Sujud Sapta Darma.
Keyakinan semakin mendalam bagi Bapak Hardjosopoero dan sahabat-sahabatnya, setelah diterimanya Wahyu Ajaran  Agama Sapta Darma bertambah lengkap, antara lain:
1)  Wahyu Sujud adalah tata cara ritual, manusia sujud kepada Tuhannya (Allah Hyang Maha Kuasa) bagi Warga Sapta Darma.
2) Wahyu Racut merupakan perilaku tata rohani manusia untuk mengetahui Alam Langgeng, melatih sowan / menghadap Hyang Maha Kuasa.
3) Wahyu Simbul Pribadi Manusia menjelaskan tentang asal mula, sifat, watak dan tabiat manusia itu sendiri, serta bagaimana manusia harus mengendalikan nafsunya agar dapat mencapai keluhuran budi sesuai dengan petunjuk dalam tulisan “Nafsu, Budi, Pakarti” yang tertera pada dasar hijau maya.
4)  Ajaran Wewarah Tujuh merupakan kewajiban, pandangan dan pedoman hidup manusia sebagai makhluk individu dalam hubungannya dengan Allah Hyang Maha Kuasa, Negara dan Bangsa, sesama umat, dirinya sendiri, serta alam sekitar /  lingkungannya.
5) Wahyu Sesanti yang cukup jelas dan gampang dimengerti oleh siapapun, membuktikan suatu etika / ciri khas Ajaran Agama Sapta Darma yang menitikberatkan kepada warganya harus bermakna dan berguna bagi sesama umat. Dengan Ajaran Agama Sapta Darma yang telah dikuasai dan diyakini, mendorong pribadi mereka masing-masing selalu dapat berkumpul setiap malam di rumah Bapak Hardjosopoero untuk mengadakan sujud bersama kepada Allah Hyang Maha Kuasa.

2.2.5. PENERIMAAN WAHYU ISTILAH TUNTUNAN DAN ISTILAH SANGGAR (15 OKTOBER 1954)
Dalam suatu pasujudan bersama malam hari  di rumah Bapak Hardjosopoero pada tanggal 15 Oktober 1954 telah diterima lagi perintah Allah Hyang Maha Kuasa, agar Bapak Hardjosopoero menunjuk Bapak Parto Sarpan sebagai Tuntunan Sanggar Pare, Kediri. Sejak itu dikenal istilah Tuntunan dan Sanggar yang merupakan ciri khas Ajaran Agama Sapta Darma.
Tuntunan adalah seseorang yang membawakan tugas Allah Hyang Maha Kuasa untuk menuntuni sujud calon Warga Sapta Darma. Sedangkan sanggar adalah tempat pasujudan bersama.
MAKNA DAN ARTI KATA
1)  Kata tuntunan dari kata dasar tuntun, kata tuntun dilakukan dua orang atau lebih, baik anak-anak maupun golongan manula yang bergandengan tangan dalam perjalanan menuju suatu tempat / tujuan yang sama (menuju kebahagiaan dan kemuliaan hidup di dunia sampai dengan hidup di alam langgeng). Kata tuntun juga dipergunakan untuk menuntun hewan peliharaan dalam perjalanan menuju suatu tujuan, misalnya menuju ladang penggembalaan. Oleh karena itu kata tuntunan di kalangan Warga Sapta Darma mengandung makna yang sama, bahkan lebih dari itu kata tuntunan juga mengandung unsur-unsur sifat kepamongan / pamong / penggembala. Dengan demikian kata tuntunan harus dilaksanakan tun tinuntun (bimbing membimbing), among kinemong (saling asah, asih, asuh). Agar tujuan mencapai keluhuran dapat diwujudkan secara bersama.
2)  Kata sanggar bagi Warga Sapta Darma adalah tempat (bangunan) yang dipergunakan untuk sujud kepada Allah Hyang Maha Kuasa dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan penghayatan dan pendalaman ajaran.

0 komentar:

Posting Komentar