Simbul Pribadi Manusia

Simbul Sapta Darma menggambarkan ASAL dan ISI pribadi manusia, yang harus dipahami serta diusahakan oleh manusia demi keluhuran budi sesuai dengan Wewarah Sapta Darma.

Wewarah Tujuh

Merupakan kewajiban warga Sapta Darma untuk menjalankannya dalam kehidupan berketuhanan, bermasyarakat dan bernegara.

Sesanti

Semboyan Kerokhanian Sapta Darma yang harus terapka agar warga Sapta Darma senantiasa menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat.

Petuah Panuntun Agung Sri Gutama

Dengan tak henti-hentinya menggali rasa yang menyelimuti tubuh kita, untuk mengenal lebih dalam kepribadian kita.

Tesing dumadi, asal mula terjadinya Manusia.

Dari getaran tanaman dan hewan yang kita makan, akhirnya berwujud air suci dengan sinar cahaya Allah, nurrasa = sarinya Bapak dan nur buat = sarinya Ibu.

Sujud dasawarsa, Sujudnya warga Sapta Darma

Sujud secara Kerohanian Sapta Darma adalah tata cara menembah kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Sempurnanya Hidup, Sempurnanya Kematian

Harapan yang ingin dicapai setiap manusia dengan jalan menghayati secara dalam makna HIDUP dan yang MENGHIDUPKAN sebelum kematian menjemput.

out of body experience

Out of body experience adalah gambaran awal dari kematian yang merupakan indikasi putusnya hubungan Input sensor dalam tubuh, ketika kondisi manusia dalam konsisi sadar.

Semar disebut juga Badranaya

Mengemban sifat among, membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan umat manusia.

Butir-butir budaya jawa.

Hanggayuh Kasampurnaning Hurip Berbudi Bawalesana Ngudi Sejatining Becik.

Pancasila..sikap hidup bangsa Indonesia.

Pancasila merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya (ajaran mencapai kemuliaan,ketentraman,dan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian).

"Darma", bagian dari ibadah warga Sapta Darma

Hidup saling berbagi, menolong bagi yang membutuhkan merupakan ibadah dalam kehidupan warga Kerokhanian Sapta Darma.

Kunjungan Bp. Permadi.

Senin, 11 Juli 2011, Bp. Permadi didampingi staf Tuntunan Agung saat melihat-lihat Sanggar Agung Pare dalam lawatannya pada Sarnas Remaja KSD ke IX tahun 2011.

Sujud Penggalian.

Merupakan prioritas utama Kerokhanian Sapta Darma dalam mengembangkan mutu ajaran serta tingkat rohani yang diharapkan bagi warganya.

Sarnas Remaja Kerokhanian Sapta Darma Ke-IX 2011.

Bapak Drs Gendro Nurhadi, M.Pd. selaku Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI terlihat membuka Sarnas Remaja KSD ke IX di Pare, 9 Juli 2011.

Sanggaran Anak-anak kerokhanian Sapta Darma.

Anak-anak merupakan pilar Kerokhanian Sapta Darma, harus dibekali pembelajaran sejak dini yang harus dilakukan dalam mempersiapkan generasi yang berbudi luhur.

Rabu, Januari 04, 2012

“ Jika Meninggal; Meninggalah Cara Manusia”

Oleh : Joyo Disastro

Sri Gutomo : “Jika Meninggal; Meninggalah Cara Manusia”

Dalam ceramahnya pernah Bu Sri Pawenang mengatakan : Jika kita berbicara rohani walau tentang diri sendiri, namun se-olah2 menyinggung perasaan org lain; hal itu karena dalam diri setiap orang/manusia mempunya rohani. Maka yg terbaik adalah perenungan dan introspeksi. Dalam kesempatan lain beliau bercerita pada penulis tentang wejangannya Pak Sri (Sri Gutomo).


Dihadapan para tuntunan, Sri Gutomo mengatakan : “Setiap orang pasti akan mati (meninggal dunia). Namun jika mati, maka matilah cara manusia, jangan mati cara satok khewan”. Pak Sri menghentikan kata-katanya dan memandangi keseputar yg hadir. Audiens menjadi hening tak ada yg bersuara. Walau di hati tersimpan rasa ingin tahu, wejangan yang dimaksud. Memang dalam diri Sri Gutomo, terpancar kharisma yang begitu kuat. Jika sedang memberikan wejangan begitu semangat dan matanya terbuka lebar, seakan melototi yang hadir. “Mati cara manusia itu bagaimana dan yang cara satok khewan itu bagaimana Pak Sri?”. Tiba2 terdengar pertanyaan dari salah satu yg hadir. Yang lainnyapun menggumamkan suara lega, pada akhirnya ada yang berani juga bertanya, mewakili pertanyaan semua orang. “Mati cara manusia itu ya matinya di rumah, paling tidak di rumah sakit. Sementara mati cara satok khewan itu adalah seperti ketlindes truk, kecemplung blumbang, tergilas kreta, terbantai dll”.

Penulis meminta penjelasan lebih lanjut pada Bu Sri tentang wejangan diatas; “Yah…tiap orang kan mempunyai jalan hidup dan guratan takdir masing2. Hal itu disebabkan karena perilaku dan tesing dumadinya. Tapi kan tidak perlu khawatir, jika tekun sujudnya, jika sampai sujudmu pd Tuhan, kamu minta ampun pastilah kesalahan2mu akan diampuni dan hukumanmu akan terkurangi”. Begitu penjelasan beliau. “Lalu Bu, jika dikatakan Dasar dengan Ajar, itu kuat mana Bu? Kan jika dasarnya orang itu mengalami nasib A misalnya, dimana peristiwa A ini tidak baik, terus bagaimana? Apakah dengan Ajar orang itu bisa, tidak mengalami peristiwa A?” penulis bertanya lebih lanjut. “Di Sapta Darma ini dgn ajaran sujudnya, bisa merubah dasar, asal sujudnya itu benar2 sampai pd Tuhan untuk mohon ampun dan bertobat. Cobalah kamu sujud tekun sampai sujudmu ‘nglonyoh’ “ jawab beliau. (nglonyoh yg dimaksud beliau artinya; suatu kondisi dimana sujud dan pengamatan rasanya sudah sangat terbiasa dilakukan tanpa batas, sehingga ketika patrap sujud, maka dengan cepat dapat memisahkan antara rasa dengan pangrasa, sehingga sujudnya itu benar2 sujud rohani, artinya Hyang Maha Suci menyatu dengan getaran Sinar Cahya Allah. Ketika Hyang Maha Suci sudah menyatu dgn Sinar Cahya Allah, dgn ijin dan kemurahan Tuhan kita bisa mengetahui jadwal hidup kita. Dan jika jadwal itu tidak baik, maka kita usaha dan upaya untuk memperbaikinya”. Beliau memberi penjelasan lebih lanjut. “Wah…angel dan susah!” Penulis membathin. “Pancen tidak mudah jika hanya dipikir, tapi cobalah dimulai. Berani mengatasi rintangan seperti malas, ngantuk dsb, pasti bisa” Kata beliau menjawab bathin penulis. Untuk mengalihkan rasa malu, penulis segera bicara lagi “Wah repot ya Bu! Kita punya kesalahan pribadi dan kesalahan bawaan leluhur, sementara untuk sujud seperti yg Ibu maksud itu sulit sekali Bu?” Tanya penulis asal. “Ya repot atau tidak, sulit atau tidak, semua tergantung pada diri kita dalam memandang, menyikapi. Kewajiban kita Cuma menjalankan titahNYA, dan kita menjalani ajaran Sujud, yg bisa membuka cakrawala spiritual, maka yang tidak kita bayangkan dan bahkan diluar nalar wadag, bisa saja terjadi. Satu hal lagi yang penting, peningkatan mutu rohani itu harus diimbangi dengan perilaku baik. Sebab sekuat apapun laku peningkatanmu melalui sujud, namun jika perilaku masih mencerminkan kemauan nafsu sedulurmu, usahamu itu dapat dikatakan sia-sia”. Nah sampai disini penulis merasa cukup menerima wejangan dari beliau, wadahnya sudah tidak mencukupi, maka begitu beliau menghentikan kata2nya, penulis pamit permisi. Lalu menuju dapur bikin kopi………….

Selasa, Agustus 09, 2011

TESING DUMADI MANUSIA

Asal mula manusia

Apakah asal mula manusia itu?…. asal mula manusia adalah dari getaran tumbuh-tumbuhan dan getaran dari binatang yang kita makan, dan akhirnya berwujud air putih (air suci) dengan sinar cahaya (tri tunggal yaitu nur cahaya = sinar cahaya allah, nur rasa = sari-sarinya Bapak dan nur buat = sari-sarinya Ibu).
Misalkan di dalam ilmu pertanian, apabila menginginkan hasil yang baik maka tentulah dipilih bibit yang baik, bibit yang unggul, bibit yang sempurna. Karena dengan bibit yang baik tanaman yg kita tanam akan menghasilkan buah /hasil yg baik pula. Disamping itu perlu juga metode/cara bercocok tanam yang benar, pemeliharaan, pemupukan dan lingkungan alam yang baik pula.
Dalam kehidupan manusia, kita akan mencita-citakan mempunyai anak yang baik, anak yg cerdas, bagus, cantik, sehat, bijaksana dsb. Akan tetapi adakah kita perhatikan bibitnya ? Adakah dipelihara bibitnya ?……apalagi jaman sekarang biji manusia diecer-ecer dimana-mana, disebarkan pada tempat yang gelap, tempat yg tidak layak dsb. Sebab menanam biji yg sempurna terletak pada orang tuanya. Kenakalan, kebodohan dan kekurang sempurnanya anak-anak yg dilahirkan adalah karena orang tuanya. Adalah karena kekeliruan orang tua dalam memelihara bijinya. Seperti contoh sehabis menebar biji ditempat-tempat yang gelap baru pulang menanam disawahnya sendiri, sehabis main judi, melihat barang-barang yg jelek, terus sampai dirumah menebarkan biji. Tentu hasilnya akan jelek, kenapa ?….Sebab getaran-getaran yg buas yg jelek masih terkenang-kenang dikepala. Dan getaran tersebut akan turut tersaring dalam menurunkan biji-biji manusia dan turut pula tertanam didalamnya.
Disamping itu prilaku orang tua yang lainnya….misalnya dalam pembentukan biji manusia didapat dari hasil yang tidak baik… misalnya dengan mencuri, korupsi, menipu, merampok dsb. Tentu berpengaruh pada kualitas biji manusia tersebut karena mengandung virus setan /jin. Bila ditanam maka anak yg lahir telah terkontaminasi virus tersebut sehingga kelak anak tersebut juga berprilaku mirip orang tuanya.
Prilaku yang lain orang tuanya senang belajar ilmu sesat yg dilarang oleh Agama atau memakai pengasihan/pellet untuk mencari jodoh…..apakah tidak mungkin juga berpengaruh terhadap anak yg dilahirkan.
Pada kenyataan sering ditemui watak/tabiat anak yang dilahirkan tidak mirip dengan kedua orang tuanya tetapi mirip kakek/neneknya atau mbahnya yg sudah meninggal.  Pada kasus ini apakah mungkin getaran/ilmu-ilmu Mbahnya menurun/tertetes pada cucunya?.